REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah mengizinkan maskapai untuk menaikan harga tiket pesawat domestik sebesar 9-13 persen imbas krisis minyak akibat konflik di Timur Tengah, yang memaksa harga avtur domestik melonjak. Selain itu, pemerintah juga dikabarkan akan menghapus komponen biaya lainnya, seperti admin fee untuk pemesanan online.
Terkait hal tersebut, Pengamat Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Revy Petragradia mengatakan bahwa komponen seperti biaya distribusi tiket dan juga admin fee hanya memberi dampak kecil terhadap harga akhir yang dibayar penumpang.
“Admin fee mungkin sedikit mempengaruhi, tapi tidak signifikan. Maskapai akan lebih banyak mengatur base fare (harga dasar) mereka," katanya dalam keterangannya.
Menurutnya, tekanan utama terhadap harga tiket justru berasal dari kenaikan harga avtur yang berkontribusi hingga 40 persen. Dari harga semula sebesar Rp 13.656 menjadi Rp 23.551 per liter. Alhasil kondisi ini mendorong pemerintah untuk memberikan sejumlah insentif.
Mulai dari penetapan fuel surcharge sebesar 38 persen untuk seluruh jenis pesawat, pemberlakuan pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) sebesar 11 persen, serta penghapusan bea masuk suku cadang pesawat menjadi 0 persen.
Ia menyampaikan bahwa langkah tersebut sudah tepat, sebab dalam struktur harga tiket pesawat, terdapat empat komponen utama yang memengaruhi tarif, yakni fuel surcharge, base fare, pajak pertambahan nilai (PPN), serta biaya operasional (airport tax).
Seiring kenaikan harga tiket sebesar 9-13 persen, Revy memperkirakan akan terjadi penurunan jumlah penumpang dalam waktu dekat. Ia menyebut proyeksi penumpang bisa tertekan hingga 10-15 persen, terutama di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil.
“Dengan kenaikan 9–13 persen, proyeksi penumpang pasti tertekan 10–15 persen, apalagi kondisi ekonomi saat ini belum menentu,” jelasnya.
Ia menambahkan, segmen perjalanan bisnis berpotensi ikut terdampak, terutama akibat pembatasan perjalanan dinas oleh pemerintah. Sementara itu, pada periode libur panjang, masyarakat diperkirakan tetap bepergian namun cenderung memilih perjalanan jarak pendek untuk menekan pengeluaran.
Dalam jangka menengah, tantangan utama bagi maskapai adalah menjaga efisiensi dan mengoptimalkan operasional di tengah tekanan biaya dan ketidakpastian global. Revy menyarankan agar maskapai mulai mengembangkan strategi bisnis yang lebih adaptif, termasuk mengintegrasikan layanan penerbangan dengan sektor pariwisata.
“Tidak hanya menjual tiket, tapi juga menggabungkan dengan layanan hotel dan wisata dalam bentuk paket perjalanan agar lebih menarik dan efektif," katanya.

21 hours ago
3















































