REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Jogja English Training Center (JETCentre) kembali menggelar Open House bertema Around the World sebagai upaya mengenalkan pentingnya bahasa Inggris kepada anak-anak sejak dini. Melalui konsep belajar sambil bermain, lembaga kursus bahasa Inggris di Kota Yogyakarta ini ingin mengubah anggapan bahwa bahasa Inggris adalah pelajaran yang sulit dan menakutkan.
HR Jogja English Training Center, Florentinus Aldhika Deinza, mengatakan kegiatan tersebut menyasar anak-anak kelas 1 hingga kelas 4 atau 5 sekolah dasar yang belum menjadi siswa JETCentre. Menurutnya, Open House menjadi sarana untuk memperkenalkan bahasa Inggris dengan metode yang lebih menyenangkan.
"Kami berupaya untuk memberikan edukasi sebenarnya, dan juga pengenalan bahwasanya bahasa Inggris itu penting. Nah, edukasi ini kita mulai dari usia-usia kecil, mulai dari pendidikan usia dini sampai di jenjang SD dan sebagainya," ujarnya saat dijumpai di Jogja English Training Center, Yogyakarta, Sabtu (4/7/2026).
"Nah, di giat Open House kali ini memang kami mencoba untuk merangkul adik-adik yang masih di kelas 1 sampai kisaran kelas 4 atau 5 SD untuk memperkenalkan bahasa Inggris, bahwa bahasa Inggris itu tidak semenyeramkan itu, bahasa Inggris itu tidak sesulit itu," katanya.
Ia menjelaskan, konsep Around the World diwujudkan melalui sejumlah pos permainan yang mewakili negara-negara berbahasa Inggris seperti Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan Inggris. Anak-anak diajak mengikuti berbagai permainan interaktif sekaligus mengenal negara-negara yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama.
"Selain kami ingin memperkenalkan siapa itu JETC, kami juga ingin mengemas bahwa bahasa Inggris itu ternyata belajarnya bisa dengan bermain game. Sehingga, di Open House kali ini kita ada beberapa pos. Di beberapa pos itu ada Pos Australia, ada Kanada, Amerika, dan juga UK. Kita bagi tiap posnya itu; nanti ada permainan-permainan juga di situ," lanjutnya.
Deinza menyampaikan, selain memberikan edukasi, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lingkungan belajar di JETCentre yang mengedepankan pengalaman belajar interaktif. Ia menegaskan proses belajar tidak hanya berfokus pada tata bahasa dan hafalan kosakata, tetapi juga dikemas melalui permainan dan aktivitas yang membuat siswa lebih antusias belajar.
Ia berharap pengalaman belajar yang menyenangkan tersebut mampu menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak untuk menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Ketika anak sudah menyukai proses belajarnya, menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris akan berkembang secara bertahap.
"Harapannya anak-anak tertarik dulu, senang dulu dengan bahasa Inggris. Setelah itu mereka akan lebih termotivasi untuk belajar lebih jauh," ujarnya.
Lebih lanjut, Deinza menjelaskan bahwa JETCentre memiliki program pembelajaran yang cukup beragam, mulai dari kelas preschool, anak-anak, remaja, hingga dewasa. Program tersebut diperuntukkan bagi kebutuhan umum, akademik, maupun profesional sehingga dapat diikuti oleh berbagai kalangan.
Dalam proses pembelajarannya, metode yang diterapkan disesuaikan dengan usia dan kebutuhan peserta. Untuk kelas anak-anak, pembelajaran tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mengembangkan kemampuan mendengar serta berbicara melalui berbagai aktivitas interaktif.
"Kami mengajarkan reading, writing, listening, dan speaking secara seimbang. Untuk anak-anak tentu tidak langsung belajar grammar yang rumit, tetapi dimulai dari ekspresi sederhana yang bisa mereka gunakan dalam percakapan sehari-hari," katanya.
JETCentre juga memanfaatkan berbagai fasilitas teknologi untuk mendukung proses belajar, mulai dari televisi, komputer, proyektor, hingga platform pembelajaran digital. Menurut Aldhika, penggunaan teknologi membuat materi lebih mudah dipahami sekaligus menciptakan suasana belajar yang lebih menarik bagi anak-anak.
Saat ini, setiap periode pembelajaran di JETCentre diikuti sekitar 200 hingga 250 siswa. Dalam satu tahun, jumlah peserta yang belajar di lembaga tersebut mencapai sekitar 2.000 orang. Seluruh program telah disusun dalam jalur pembelajaran yang berjenjang, mulai dari kelas anak-anak, remaja, hingga dewasa, sehingga peserta dapat terus mengembangkan kemampuan bahasa Inggris sesuai tingkatannya.
"Yang kedua, kami jelas ingin memperkenalkan environment JETC bahwa belajar di JETC itu tidak sekonvensional itu. Tidak yang harus belajar tentang grammar, tidak harus menghafal vocabulary, tapi ada kemasan permainan-permainan di situ. Permainan itu menjadi satu bagian dari pembelajaran bahasa Inggris," ucapnya.

3 hours ago
1
















































