REPUBLIKA.CO.ID,GAZA -- Serangan Israel ke Gaza semenjak diberlakukannya gencatan senjata selama tiga bulan terakhir, telah merenggut lebih dari 400 nyawa. Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan 40 persennya yang meninggal adalah anak-anak.
Israel menyatakan bahwa serangannya ditujukan kepada Hamas dan militan lainnya yang dianggap mengancam pasukannya. Atau, terhadap orang-orang yang bertindak mencurigakan di dekat “garis kuning” yang membagi wilayah tersebut menjadi area kendali Israel dan Hamas.
Namun, sekitar 40 persen dari 439 orang yang tewas akibat serangan Israel antara dimulainya gencatan senjata pada 10 Oktober hingga 9 Januari adalah anak-anak.
Mahmoud Bassal, juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, menantang pembenaran Israel atas kelanjutan serangan-serangan tersebut.
“Jika Israel benar-benar merespons operasi perlawanan, mengapa kita menyaksikan hampir setiap hari pembunuhan warga sipil, khususnya anak-anak, jauh dari lokasi bentrokan?” ujarnya.
“Israel mengklaim ini sebagai respons terhadap perlawanan, tetapi itu adalah kebohongan. Tidak ada perlawanan di dekat wilayah-wilayah ini. Israel menciptakan alasan untuk membunuh warga sipil dan anak-anak.”
Keluarga-keluarga yang tinggal di dekat garis kuning tetap berada di bawah ancaman, sementara mereka yang tinggal jauh darinya pun tidak luput. Kasus terbaru terjadi pada 8 Januari di wilayah Falluja, Jabalia, di Jalur Gaza bagian utara, ketika seorang gadis kecil bernama Hamsa Houso tewas sekitar satu kilometer dari garis kuning.
Pamannya, Mohammad Houso, mengatakan keluarganya terbangun oleh jeritan.
“Saya berlari ke bawah dan menemukan Hamsa, baru berusia 12 tahun, tertembak di kepala,” katanya kepada The National.
Beberapa saat sebelumnya, pasukan Israel telah menembakkan tiga peluru artileri ke daerah tersebut, disusul tembakan senjata berat dari kendaraan lapis baja dan drone quadcopter.
“Peluru itu mengenainya secara langsung. Ini disengaja. Teknologi Israel sangat maju, tidak ada yang kebetulan,” kata Houso.
Ia membawa Hamsa ke pos medis terdekat, tetapi ambulans di sana tidak berfungsi. Ketika ambulans lain tiba 15 menit kemudian, Hamsa sudah meninggal.
Ia mengatakan Hamsa mencintai sekolah dan bermimpi menjadi orang sukses. Keluarga itu juga masih berjuang menghadapi hilangnya ayah Hamsa, Nidal, yang tidak diketahui keberadaannya sejak pasukan Israel melancarkan operasi di Gaza utara lebih dari setahun lalu.
“Kami tidak tahu apakah dia gugur sebagai syahid atau ditahan sebagai tahanan. Kami tidak tahu apa-apa,” ujar Houso.
Pada 3 Januari, Fatima Ma‘rouf (11) sedang duduk di dekat tenda keluarganya di Al Atatra, wilayah barat kota Beit Lahia di Gaza utara, ketika sebuah drone quadcopter melayang di atas mereka.
“Drone itu mulai menjatuhkan bom-bom kecil ke arah orang-orang,” kata neneknya, Amina Ma‘rouf, kepada The National. “Salah satunya mengenai Fatima secara langsung dan ia meninggal seketika.”
Fatima bermimpi membangun kembali rumahnya yang hancur akibat perang, menyelesaikan sekolah, dan menjadi guru sains, kata sang nenek.
Ibu Fatima, yang terluka dalam serangan tersebut, masih dirawat di unit perawatan intensif dan belum mengetahui bahwa putrinya telah wafat.
“Apa yang dilakukan keluarga ini? Mereka tidak tergabung dalam faksi atau kelompok mana pun,” ujar Ma‘rouf.
“Israel mengklaim perang telah berakhir, tetapi mereka terus membunuh anak-anak kami secara terbuka.
“Tidak ada dunia di mana pembunuhan seorang anak dapat dibenarkan. Namun mereka terus membunuh anak-anak kami, dan tidak ada seorang pun yang menghentikan mereka.”
Sumber:

2 days ago
6
















































