Ilmu yang Menjadi Karya

1 hour ago 3

Oleh: Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Kamis, 27 Agustus 2026, menjadi salah satu hari yang akan selalu kami ingat. Di Sasana Budaya Ganesha Institut Teknologi Bandung (Sabuga ITB), kami menyaksikan putri sulung kami, Najwa Rashika, mengikuti prosesi wisuda setelah menuntaskan pendidikan sarjananya di Program Studi Teknik Dirgantara, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara. Dari 30 lulusan Teknik Dirgantara pada periode ini, Najwa menjadi salah satu dari 6 perempuan yang berhasil menuntaskan pendidikan sarjananya.

Perjalanan menuju hari wisuda tersebut tentu tidak selalu mudah. Kami masih teringat pada dua semester pertama di ITB, ketika Najwa menjalani Tahap Persiapan Bersama (TPB). Saat itu, ia sempat 'kaget' dengan ritme pembelajaran yang padat dan tugas yang begitu banyak. Namun, perlahan ia mampu beradaptasi. Ia mulai aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan, sementara lembur di laboratorium menjadi bagian dari kesehariannya. Satu demi satu tantangan dilalui hingga akhirnya ia menyelesaikan studi dengan predikat cum laude dan menjadi mahasiswa pertama dari angkatannya yang melaksanakan sidang tugas akhir.

Ada pula cerita kecil dalam wisuda kali ini, foto yang digunakan Najwa untuk buku wisuda dan ijazahnya. Menjelang kepulangannya ke Indonesia setelah menyelesaikan studi pertukaran di University of Groningen, ia sempat menjelajahi Alkmaar, Belanda, bersama kami. Saat itu, untuk keperluan administrasi yudisium, ia membutuhkan pas foto terbaru. Sebuah studio kecil di Alkmaar akhirnya menjadi tempat foto tersebut diambil. Tak disangka, foto dari perjalanan keluarga itu kemudian menjadi foto resmi pada ijazah dan buku wisudanya, sebuah kenangan yang sama sekali tidak direncanakan, tetapi justru menjadi bagian dari dokumen penting dalam perjalanan akademiknya.

Pada prosesi wisuda, ada kejutan kecil lainnya. Selama menjalani perkuliahan, Najwa beberapa kali berinteraksi dengan Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T. Ketika prosesi jabat tangan berlangsung, Pak Tacip, sapaan akrab beliau, ternyata masih mengingat Najwa dan sempat menyapanya. Sapaan itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun, bagi kami, momen singkat tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan seorang mahasiswa tidak hanya meninggalkan catatan dalam transkrip nilai. Di baliknya, ada pertemuan, pengalaman, dan hubungan yang kelak tetap menjadi bagian dari perjalanan, bahkan setelah masa kuliah berakhir.

Satu hal menarik lainnya adalah pesan yang disampaikan Pak Tacip dalam pidato wisuda. Menurut beliau, setelah toga dilepas dan ucapan selamat berhenti berdatangan, kehidupan akan mengajukan pertanyaan yang jauh lebih penting daripada soal-soal yang pernah dikerjakan selama kuliah, "Apa yang akan Saudara lakukan dengan ilmu yang telah Saudara miliki?" Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting. Wisuda bukanlah akhir dari pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab baru untuk menggunakan ilmu yang telah diperoleh. Dalam pidatonya, Pak Tacip menitipkan lima pesan kepada para wisudawan, bersyukurlah melalui karya, kuasai teknologi tetapi jangan kehilangan kemanusiaan, jangan takut memulai dari hal-hal kecil, jadilah pemecah masalah dan bekerjalah bersama, serta pergilah sejauh-jauhnya tetapi jangan lupa pulang.

Pesan tersebut tidak hanya relevan bagi para wisudawan. Bagi saya, pesan itu juga terasa dekat dengan keseharian sebagai seorang dosen yang setiap tahun menyaksikan mahasiswa memulai perjalanan pendidikan tingginya. Sebentar lagi, mahasiswa baru Universitas Amikom Yogyakarta akan memasuki babak baru dalam kehidupan mereka. Mereka akan memasuki dengan ruang-ruang kuliah, berkenalan dengan dosen dan teman-teman baru, menghadapi tugas dan praktikum, mengikuti organisasi, serta mengerjakan berbagai proyek. Di tengah perjalanan itu, mungkin akan ada saat-saat ketika mereka merasa bahwa kuliah ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pada titik-titik seperti itulah, pesan tentang ketekunan, keberanian memulai dari hal-hal kecil, kemampuan memecahkan masalah, dan tetap menjaga sisi kemanusiaan menjadi penting.

Justru dari proses itulah perjalanan pendidikan dibentuk. Bagi mahasiswa yang memilih bidang Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer, tantangannya akan semakin menarik. Teknologi berkembang begitu cepat. Kecerdasan Buatan, Data Science, Keamanan Siber, Komputasi Awan, Robotika, dan berbagai teknologi baru akan terus berkembang selama mereka menempuh pendidikan. Karena itu, mereka tidak cukup hanya belajar menguasai teknologi yang ada hari ini, yang lebih penting mereka perlu memiliki kesiapan untuk terus belajar dan beradaptasi ketika teknologi berubah. Bagi mahasiswa baru yang sebentar lagi memulai petualangan sebagai mahasiswa, mungkin pertanyaan yang perlu disiapkan sejak awal bukan hanya, “Apa yang akan saya pelajari?” atau “Berapa nilai yang akan saya dapatkan?” Lebih dari itu, ada pertanyaan yang barangkali perlu terus dibawa sepanjang perjalanan “Untuk apa ilmu ini kelak saya gunakan?”

Beberapa tahun dari sekarang, mereka akan berdiri di tempat yang berbeda. Sebagian mungkin mengikuti wisuda dan melanjutkan studi seperti Najwa. Sebagian lainnya mungkin bekerja di perusahaan, membangun usaha, menjadi peneliti, atau menciptakan sesuatu yang hari ini bahkan belum mereka bayangkan. Ke mana pun perjalanan itu membawa mereka, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah pada akhirnya akan menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam karya dan memberi manfaat bagi sesama. Allah SWT berfirman, “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin...” (QS. At-Taubah: 105). Ayat ini mengingatkan bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang dikumpulkan untuk mencapai sebuah gelar, melainkan amanah yang semestinya diwujudkan dalam karya dan kebaikan. Sebuah pencapaian tentu patut disyukuri. Namun ketika ilmu yang dimiliki mampu memberi manfaat dan menjadi bagian dari pengabdian kepada masyarakat, di situlah rasa syukur memperoleh makna yang lebih luas.

Satu perjalanan telah selesai, tetapi perjalanan berikutnya baru saja dimulai. Demikian pula bagi mahasiswa baru Universitas Amikom Yogyakarta yang sebentar lagi membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka. Selamat memulai petualangan. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, berkaryalah, dan jangan lupa membawa satu pertanyaan sepanjang perjalanan, “Apa yang kelak akan saya lakukan dengan ilmu yang saya miliki?" Wallāhu a'lam.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |