Idul Fitri. Ilustrasi

Oleh : Sekjen Partai Keadilan Sejahtera Muhammad Kholid
REPUBLIKA.CO.ID, Idul Fitri bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Ia adalah cermin sejauh mana Ramadhan benar-benar membentuk ulang diri kita sebagai manusia.
Ia jadi momentum evaluasi apakah Ramadhan benar-benar membentuk empati sosial dan memperkuat solidaritas kemanusiaan kita? Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. 2:183)
Tujuan puasa adalah takwa. Dan, takwa bukan sekadar kesalehan pribadi, tetapi kesadaran moral yang tercermin dalam kepedulian sosial.
Sekolah empati dan kemanusiaan
Ramadhan mengajarkan lapar, tetapi bukan untuk melemahkan. Ia melatih empati. Ketika perut kosong, kita belajar merasakan apa yang setiap hari dirasakan oleh mereka yang hidup dalam kekurangan.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari - Muslim)
Hadits ini menegaskan bahwa iman sejati berbanding lurus dengan empati. Ramadhan mendidik kita untuk keluar dari ego dan merasakan derita orang lain.
Ia meruntuhkan kesombongan yang sering tumbuh dari kenyamanan. Dalam lapar dan dahaga, manusia kembali pada fitrahnya: makhluk yang rapuh dan bergantung.
Kemanusiaan lahir ketika kita sadar bahwa semua orang sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Tidak ada yang sepenuhnya kuat. Tidak ada yang sepenuhnya lemah. Ramadhan mengikis jarak sosial dan psikologis di antara kita.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
1















































