REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Harga produk plastik di Kota Semarang, Jawa Tengah, mengalami lonjakan signifikan, bahkan menembus 100 persen. Hal tersebut dikeluhkan warga dan pedagang, termasuk pelaku UMKM.
Firza (30 tahun), distributor sekaligus pemilik Toko Plastik Wahid Prima yang berlokasi di Kecamatan Gayamsari, mengungkapkan kenaikan harga produk plastik terjadi secara gradual, yakni pada pekan pertama Ramadhan atau menjelang akhir Februari 2026. Ia mengatakan, produk yang pertama kali mengalami peningkatan harga adalah gelas plastik yang biasa digunakan pedagang untuk menjual minuman es.
Menurut Firza, saat itu kenaikan harga gelas plastik masih terbilang wajar, yakni sekitar 10 persen. "Yang biasanya saya beli per dus Rp 250 ribu, itu naik jadi Rp 260 ribu-Rp 275 ribu per dus. Jadi harga ecerannya biasanya masih bisa kita jual Rp 14 ribu, itu sudah mulai tidak bisa," ujarnya ketika ditemui Republika, Selasa (7/4/2026).
Ia mengungkapkan, harga produk plastik mulai melambung saat mendekati Lebaran. "Dari kenaikan 10 persen, tiba-tiba dalam kurun per minggu itu naik 20 persen, 30 persen, lalu 50 persen, bahkan sampai 100 persen saat mendekati Lebaran," ucapnya.
Firza menilai, kenaikan harga tersebut sudah tidak masuk akal. "Yang sebelumnya per dus gelas plastik itu Rp 250 ribu, sekarang bisa sampai Rp 400 ribu-Rp 500 ribu. Berarti kenaikannya sudah 100 persen," katanya.
Ia menambahkan, kenaikan harga terjadi merata pada produk plastik lainnya, seperti plastik kemasan dan styrofoam. "Styrofoam ini dulu per slop Rp 25 ribu, tetapi sekarang sudah Rp 38 ribu," ujar Firza.
Karena terjadi kenaikan harga, Firza mengaku harus mengucurkan modal lebih besar untuk memperoleh barang atau stok dengan jumlah yang sama. "Ibaratnya kalau biasanya modal Rp 10 juta, sekarang bisa Rp 20 juta," ucapnya.
Firza mengatakan, ia sebenarnya segan menaikkan harga kepada konsumennya karena kebanyakan pelanggannya adalah pelaku UMKM. Menurutnya, kenaikan harga tersebut tentu memberatkan mereka. Namun, Firza tidak mempunyai opsi lain selain menyesuaikan harga jual.
Menurut informasi yang diperoleh Firza dari para penyuplai, kenaikan harga produk plastik terjadi karena pabrik mulai menutup pesanan. "Pabrik sudah mulai close order, tidak bisa produksi lagi karena terkendala biji plastik," ungkapnya.
Ia menambahkan, hambatan produksi tampaknya berkaitan dengan konflik di Timur Tengah. "Biji plastik ini kan petrokimia, dan pabrik juga bisa beroperasi dari minyak mentah, sedangkan minyak mentah itu katanya sudah mulai sulit akibat terdampak perang," kata Firza.
Firza berharap pemerintah memiliki solusi untuk menstabilkan kembali harga produk plastik. "Kalau bisa tolong dicarikan solusi untuk para pengusaha, khususnya di bahan petrokimia seperti ini. Kami butuh kepastian, bukan hanya kenaikan harga terus," ujarnya.
Salah satu pelanggan toko plastik Firza adalah Ipah (32 tahun). Ia merupakan pedagang ayam geprek. Produk plastik yang biasa ia beli untuk berdagang adalah styrofoam.
Ipah mengatakan, harga satu pak styrofoam isi 100 biasanya hanya Rp 25 ribu. Saat ini harganya telah menembus Rp 38 ribu. "Naiknya banyak sekali. Kalau naiknya hanya Rp 1.000 atau Rp 2.000 masih tidak apa-apa," ucapnya.
Sejak harga produk plastik naik, Ipah mengaku belum menaikkan harga dagangannya. Namun, karena saat ini harga terus melambung, Ipah memutuskan akan menaikkan harga ayam gepreknya. "Paling nanti saya naikkan Rp 1.000. Biasanya satu paket saya jual Rp 10 ribu, nanti saya jual Rp 11 ribu," katanya.
Harga perabot berbahan plastik juga mengalami kenaikan. Hal itu diungkapkan Ari, pedagang perabot di Pasar Johar Semarang. Ia mengatakan, kenaikan harga barang plastik sudah terjadi setidaknya selama sebulan terakhir. "Ini terutama yang merek Maspion, kenaikannya per April sudah 20 persen," ucap Ari.
Ia mencontohkan, harga termos nasi merek Maspion ukuran 30 biasanya sekitar Rp 225 ribu. "Sekarang harganya naik menjadi Rp 280 ribu-Rp 285 ribu," ujarnya.
Karena kenaikan harga tersebut, Ari mengaku harus menurunkan jumlah pengambilan produk dari distributor atau penyuplai. "Yang biasanya saya mengambil selusin, jadi setengah lusin," katanya.
Selain itu, Ari juga menekan margin laba agar harga jual ke konsumen dapat sedikit ditekan.

6 hours ago
2















































