Haedar Nashir: Isra Miraj Harus Dihidupkan dalam Kesalehan Pribadi-Sosial

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Peringatan Isra Miraj mesti diiringi dengan kesadaran kontekstual agar tidak menjadi perayaan semata. Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Haedar Nashir.

Ia mengatakan, nilai-nilai Isra Miraj mesti diaktualisasi untuk spiritualitas pribadi dan kehidupan kebangsaan. Dengan begitu, umat Islam dapat meneguhkan kesalehan diri dan sosial.

Isra Miraj, lanjut Haedar, juga merupakan peristiwa yang menguji ketakwaan, keimanan, dan tauhid seorang Muslim. Sebab, peristiwa ini menjadi mukjizat "di luar nalar" manusia pada umumnya.

Momen peringatan Isra Miraj dapat menjadi kesempatan bagi warga dan pemimpin bangsa untuk membangun relasi ketuhanan. Hal itu sekaligus menguatkan tauhid, iman, dan takwa sehingga membangkitkan jiwa saleh.

Kesalehan ini penting sebagai rambu penghalang bagi hasrat berbuat buruk, seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, berkata kasar dan kemaksiatan lainnya.

“Bahkan, dari relasi dengan Allah itu harus melahirkan relasi murakabah,” ucap Haedar Nashir, dikutip dari keterangan tertulis pada Jumat (16/1/2026).

Relasi murakabah merupakan kesadaran spiritual mendalam bahwa seorang hamba terus diawasi oleh Allah. Jika relasi ini hidup dalam jiwa warga bangsa dan para pemimpin, tegas Haedar, hasrat untuk berperilaku buruk akan dapat diantisipasi.

Cermin keteladanan autentik

Di samping itu, Haedar berharap, momen perayaan Isra M’raj menjadi titik tolak untuk kembali meneladan Nabi Muhammad SAW. Terlebih saat ini, Indonesia dapat dikatakan miskin keteladanan.

“Mari, jadikan peringatan Isra Mi’raj untuk belajar terus menerus menampilkan (keteladanan) yang autentik,” ujar Haedar.

Ia mengimbau para pemimpin bangsa agar menjadikan Isra Miraj cermin untuk berkata dan bertindak yang seksama. Dengan begitu, seluruh warga bangsa menaruh hormat dan percaya. Akhirnya, ‘rasa’ memiliki teladan dari pemimpin mereka dapat diwujudkan.

Adapun bagi elite agamawan, Haedar mengajak supaya selaras antara ajaran dengan tindakan. Menurut dia, kegersangan teladan di tubuh bangsa ini harus diteduhkan. Maka, tugas para elite setiap level adalah menjadi oase keteladanan untuk menghilangkan dahaga.

"Keteladanan autentik bersumber dari Nabi Muhammad SAW sebagai barometernya," ucap Haedar.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |