
REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Kemarin, saya berkesempatan membaca salah satu slide presentasi dalam pidato Dies Natalis ke-54 Universitas AKPRIND Indonesia yang disampaikan Prof Dr Eng Deendarlianto, ST, M.Eng.
Di salah satu slide menyinggung hal menarik yakni adanya peneliti asing yang serius melakukan riset tentang hantu-hantu dalam folklor di Indonesia. Peter J Bräunlein, Profesor Antropologi Budaya dari Universitas Bremen, Jerman, dituliskan dalam slide.
Beliau yang bersama Andrea Lauser dari Universitas Göttingen memimpin proyek riset bertajuk Spirits and Modernity dalam jaringan riset DORISEA selama 2011-2015 dan menghasilkan buku Ghost Movies in Southeast Asia and Beyond.
Di salah satu artikelnya, ia secara eksplisit membandingkan transformasi hantu di Indonesia dengan serial film horor Hollywood kontemporer dan menemukan adanya keterkaitan naratif yang signifikan antara keduanya.
Kuntilanak, pocong, genderuwo, dan sederet hantu dari tradisi lisan Nusantara ternyata bukan sekadar cerita untuk menakuti anak-anak. Mereka semua data budaya yang kaya dan selama berabad-abad tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat.
Hantu-hantu tersebut ternyata dapat diteliti oleh akademisi mancanegara sebagai bahan baku pemahaman tentang modernitas, trauma, dan identitas manusia. Di balik berbagai cerita hantu tersebut, ada sesuatu yang cukup menarik untuk diulas.
Cerita di masa lalu, dengan segala kisah, baik sedih maupun gembira ternyata tidak pernah benar-benar pergi. Cerita itu hanya menunggu untuk muncul dan dapat dibaca ulang dengan cara berbeda.
Namun tidak dimungkiri, seringkali kita terjebak dalam dua kutub ekstrem dalam menyikapi masa lalu. Pertama melupakannya sepenuhnya, atau kedua terhanyut dan terpenjara di dalamnya. Padahal ada sikap ketiga yang jauh lebih bijak, yaitu berdamai dengannya. Masa lalu tidak bisa diubah tetapi cara kita menyikapinya bisa menentukan arah masa depan.
Sebuah nasihat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib k.w. menjadi sangat relevan di era AI ini, “Jadikan masa lalu sebagai pelajaran, masa kini sebagai kesempatan dan masa depan sebagai tujuan”. Era di mana AI mampu mengolah data masa lalu menjadi kecerdasan masa depan.
Di era kecerdasan buatan saat ini, data historis bukanlah sekadar arsip yang tidak berguna. Hampir semua sistem AI yang kita kenal saat ini bekerja di atas fondasi data masa lalu yang sangat besar.
Model bahasa besar seperti yang menopang asisten AI saat ini dilatih menggunakan miliaran teks dari masa lalu. Sistem pengenalan wajah belajar dari jutaan foto yang sudah ada sebelumnya. Rekomendasi konten dihasilkan dari jejak perilaku pengguna yang telah terekam.
Semakin kaya dan berkualitas data historis yang dimiliki, semakin tajam pula kemampuan AI yang dibangun di atasnya. Bangsa yang memiliki data historis yang kaya dan terkelola baik sesungguhnya memiliki keunggulan yang tak bisa dibeli dalam semalam.
Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan data historis yang luar biasa. Ratusan bahasa daerah, ribuan tradisi lisan, arsip kolonial yang belum seluruhnya terdigitalisasi, catatan budaya yang tersebar di berbagai komunitas adat.
Namun kekayaan itu seringkali belum terkelola dengan baik. Banyak data yang tersimpan dalam format yang tidak bisa dibaca mesin. Banyak pengetahuan yang masih hidup dalam ingatan orang-orang tua yang belum sempat didokumentasikan.
Ironisnya, peneliti asinglah yang kadang lebih dulu menyadari nilai dari data itu, mendigitalisasinya, menganalisisnya, dan menggunakannya untuk kepentingan mereka sendiri. Hantu-hantu Indonesia itu kini menghantui layar bioskop dunia, sementara kita masih sering terlambat menyadari nilainya.
Kesadaran ini penting bagi komunitas akademik, khususnya mahasiswa S2 Informatika dan S3 Informatika Universitas Amikom Yogyakarta yang sedang menyusun tesis dan disertasi. Di bidang Informatika, data historis bisa menjadi sumber novelty yang sangat kuat.
Penelitian tentang pengolahan bahasa daerah dengan NLP, klasifikasi motif batik dengan Computer Vision, analisis pola migrasi melalui data kependudukan historis, hingga deteksi anomali berbasis rekam jejak sistem yang panjang, semuanya berangkat dari satu prinsip yang sama, yaitu masa lalu menyimpan pola, dan saat ini AI adalah alat terbaik untuk membaca pola itu.
Pertanyaan penelitian yang paling relevan sering kali bukan tentang hal yang belum pernah ada, melainkan tentang hal lama yang belum pernah dibaca dengan cara baru.
Di Universitas Amikom Yogyakarta, semangat untuk menggali dan memanfaatkan data historis dalam penelitian berbasis AI bukan hal asing. Riset-riset yang mengangkat kearifan lokal, mengolah data arsip, atau membangun sistem yang memahami konteks budaya Indonesia adalah bagian dari kontribusi yang paling bermakna yang bisa diberikan kampus berbasis Informatika kepada bangsa ini.
Ketika dunia berlomba membangun AI yang semakin pintar, keunggulan sesungguhnya ada pada mereka yang memiliki data yang paling relevan dengan konteks lokalnya.
Universitas Amikom Yogyakarta dengan ekosistem riset yang terus berkembang dan guru besar yang aktif dalam penelitian bertaraf internasional, memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin di area ini.
Masa lalu bukanlah penjara, namun dapat dijadikan sebagai guru. Bukan beban yang harus dipikul selamanya, melainkan pijakan untuk melangkah lebih jauh. Masa lalu tidak perlu ditakuti. Ia perlu dibaca, dikelola, dan dihidupkan kembali dengan cara yang baru.
Masa lalu adalah amanah yang menunggu untuk dipahami, bukan beban yang harus menghantui. Saat ini yang dibutuhkan bukan hanya kecerdasan mesin, melainkan hati yang telah berdamai dengan masa lalu dan akal yang siap membangun masa depan.
Allah SWT berfirman: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya... Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami." (QS Al-Baqarah: 286). Wallāhu a'lam.

3 hours ago
2
















































