
Oleh : Prof Dr Nur Hadi Ihsan, Guru Besar Ilmu Tasawuf Universitas Darussalam Gontor
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada wafat yang meninggalkan kegamangan, dan ada wafat yang justru meneguhkan keyakinan. Wafatnya Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A. termasuk yang kedua. Beliau hadir sebagai sunyi yang teduh, bukan sebagai guncangan yang meruntuhkan. Sunyi yang mengajak merenung, bukan untuk meratap, melainkan untuk memahami kembali bagaimana sebuah amanah dijalani dengan penuh kesadaran dan ketenangan.
Pada pukul 12.14 hari ini, Sabtu, 3 Januari 2026, satu pribadi mulia berpulang. Media menuliskan namanya, sejarah mencatat kiprahnya, dan generasi Gontor menundukkan kepala dengan penuh hormat. Namun tidak ada kegelisahan tentang arah. Sebab Gontor sejak awal dibangun bukan bergantung pada figur, melainkan pada nilai, sistem, kaderisasi, dan kesinambungan amanah. Kepergian beliau bukan tanda kekosongan, tetapi peneguhan bahwa estafet telah disiapkan dan perjalanan tetap berlanjut.
Lahir dari Amanah Sejarah
Prof. Amal lahir dari nasab besar. Beliau putra K.H. Imam Zarkasyi, salah seorang Trimurti, Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Namun sejak awal, beliau tumbuh dengan kesadaran jernih bahwa sejarah bukanlah privilese, melainkan amanah yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab dan kerendahan hati.
Dalam diri beliau, warisan tidak diterjemahkan sebagai hak istimewa, tetapi sebagai kewajiban menjaga nilai. Beliau tidak berdiri di depan sejarah untuk dikagumi, melainkan berjalan di dalamnya untuk memastikan arah tetap lurus. Dengan cara itu, beliau mengajarkan bahwa kesinambungan Gontor bertumpu pada kesetiaan terhadap sistem dan nilai, bukan pada romantisme masa lalu atau glorifikasi nama besar.
Ilmu yang Membentuk Karakter
Bagi Prof. Amal, ilmu adalah jalan pembentukan manusia. Ilmu tidak berhenti pada perluasan wawasan atau ketajaman nalar, tetapi harus berujung pada pendalaman adab, kematangan sikap, dan kesanggupan memikul tanggung jawab. Ilmu yang tidak membentuk karakter, dalam pandangannya, kehilangan makna terdalamnya.
Pesan-pesan beliau, yang terhimpun dalam nasihat, ceramah, pengarahan, pidato, amanah, dan wejangan (lihat, The Garden of Wisdom: Cultural and Historical Wisdom – Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A.), selalu bergerak pada poros yang sama: keikhlasan bekerja, kedisiplinan berpikir, dan kesetiaan pada nilai. Bahasanya jernih dan bersahaja, tetapi meninggalkan bekas yang dalam, karena lahir dari pengalaman pengabdian yang panjang dan kesadaran yang matang.
Kepemimpinan dalam Sistem
Sebagai Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Prof. Amal menjalani kepemimpinan dengan kesadaran sistemik yang kuat. Beliau menempatkan kepemimpinan dalam kerangka amanah institusional, dengan meneguhkan tata nilai, mekanisme kerja, dan kaderisasi yang telah lama menjadi ciri khas Gontor.
Beliau memahami bahwa kekuatan lembaga besar tidak terletak pada figur tunggal, melainkan pada keteraturan peran, kejelasan arah, dan kesinambungan kepemimpinan. Karena itu, kehadirannya bukan untuk menggantikan sistem, tetapi untuk merawat dan menguatkannya. Kepemimpinannya menjadi teladan: memimpin tanpa mendominasi, mengarahkan tanpa meniadakan yang lain, dan menjaga tanpa harus menonjolkan diri, kepemimpinan yang menyatu dengan irama lembaga, bukan berdiri di atasnya.

1 day ago
3















































