GAPKI Dorong Adopsi Teknologi Industri Sawit

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, SERUYAN — Industri sawit nasional memperluas penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab tuntutan keberlanjutan, keterbatasan tenaga kerja, hingga tuntutan traceability global.

Upaya tersebut dibahas dalam kegiatan Konsorsium Mekanisasi, Digitalisasi & Otomasi (MDO) Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang digelar di kebun PT Binasawit Abadipratama, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Forum itu  mempertemukan pelaku industri sawit untuk berbagi pengalaman, benchmarking, dan melihat penerapan teknologi di lapangan.

Ketua Bidang Riset & Pengembangan GAPKI Dwi Asmono mengatakan, transformasi teknologi menjadi kebutuhan industri sawit untuk menjaga daya saing di tengah persaingan global.

“Kalau kita bicara teknologi, research innovation ada idiom yang mengatakan innovate or die, inovasi atau mati. Persaingan di industri ini luar biasa,” kata Dwi Asmono dalam siaran pers, Selasa (25/5/2026).

Menurut dia, peningkatan produktivitas menjadi fokus utama sektor hulu sawit. Karena itu, GAPKI mendorong pembentukan sejumlah konsorsium lintas perusahaan, mulai dari konsorsium sumber daya genetik, Ganoderma, hingga mekanisasi, digitalisasi, dan otomasi.

Ia menilai, model pembelajaran bersama antarperusahaan diperlukan untuk mempercepat adopsi teknologi di perkebunan sawit.

“Industri membutuhkan shared learning, benchmarking, pilot project bersama, dan keberanian mencoba teknologi baru,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga melihat penerapan sejumlah inovasi di lapangan, termasuk metode replanting rorak yang diterapkan PT Binasawit Abadipratama.

CEO PT Binasawit Abadipratama Benny Yusuf Setiawan mengatakan, penggunaan mekanisasi dan otomasi membantu meningkatkan efisiensi pekerjaan lapangan yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.

Menurut dia, metode replanting yang diterapkan perusahaan berpotensi meningkatkan produktivitas tanaman sawit pada masa awal panen.

“Jika target sebelumnya pada usia 31–42 bulan setelah tanam sekitar 10 ton, sekarang kita bisa meningkat menjadi 15 bahkan sampai 20 ton per hektar untuk yield panen perdana,” ujar dia.

Ketua GAPKI Cabang Kalimantan Tengah Rizki Djaya mengatakan, peningkatan produktivitas menjadi salah satu langkah penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit nasional.

“Tujuan kegiatan hari ini adalah meningkatkan produktivitas kelapa sawit dengan berbagai strategi, mekanisasi, serta percepatan produksi agar sawit berkelanjutan ini bisa kita pertahankan,” ujarnya.

Menurut dia, Indonesia saat ini masih menjadi produsen sawit terbesar dunia dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap kebutuhan global.

Melalui Konsorsium MDO, GAPKI menargetkan lahirnya proyek percontohan teknologi, standar praktik industri, hingga pengembangan sumber daya manusia sawit yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |