Film Songko Angkat Legenda Urban Minahasa Tahun 1986

5 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia perfilman horor Indonesia diramaikan dengan legenda urban dari pelosok Nusantara. Kali ini, datang dari tanah Minahasa, Sulawesi Utara, di mana sebuah mitos kuno yang selama ini hanya menjadi bisikan di telinga masyarakat, diangkat ke layar lebar melalui film berjudul Songko.

Rumah produksi Dunia Mencekam Film bersama Santara memperkenalkan cuplikan perdana melalui trailer dan poster resminya. Dalam trailer berdurasi kurang dari dua menit yang baru saja dirilis, penonton seolah ditarik paksa untuk memasuki suasana Tomohon pada 1986.

Visual yang ditampilkan menangkap esensi sebuah desa yang tenang, namun perlahan diselimuti kabut ketakutan yang pekat. Cerita bermula ketika kedamaian warga mulai terkoyak oleh serangkaian penemuan mayat perempuan muda yang tewas secara mengenaskan.

Kematian yang tidak wajar ini memicu desas-desus lama tentang eksistensi Songko, sebuah entitas yang diyakini mengincar darah suci para perawan demi mencapai keabadian atau kekekalan. Sosok misterius ini perlahan mengubah dinamika sosial desa yang awalnya harmonis menjadi sarang kecurigaan dan tuduhan tak berdasar.

Elemen-elemen horor yang disajikan terasa gelap dan organik, mempertontonkan bagaimana sebuah legenda lokal dapat memberikan dampak psikologis yang nyata. Kehadiran sosok misterius yang diyakini sebagai perwujudan Songko muncul sekilas, meninggalkan rasa penasaran sekaligus kengerian yang membekas bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Film Songko menjadi tonggak sejarah baru bagi Gerald Mamahit. Setelah sukses malang melintang sebagai penulis skenario di balik judul-judul horor box office seperti KKN di Desa Penari, Sosok Ketiga, hingga Thaghut, kali ini Gerald memberanikan diri duduk di kursi sutradara. Debut penyutradaraan layar lebarnya ini sangat dinantikan, mengingat kepiawaiannya dalam meramu narasi horor yang solid. Di bawah arahannya, film ini dibintangi oleh deretan aktor dan aktris berbakat seperti Annette Edoarda, Imelda Therinne, Fergie Brittany, Tegar Satria, dan Khiva Iskak.

Kehadiran mereka memberikan nyawa pada karakter-karakter yang harus berhadapan dengan teror supranatural sekaligus ego manusia di tengah kepanikan. Annette Edoarda, yang menjadi salah satu pemeran utama, berbagi pengalamannya selama proses produksi di Tomohon. Ia mengaku bahwa latar lokasi syuting memberikan pengaruh besar terhadap performa aktingnya.

“Selama syuting, kami benar-benar merasakan atmosfer yang berbeda. Lokasi di Tomohon dengan cerita legenda yang kuat membuat suasananya terasa sangat hidup. Saat menonton trailer-nya kembali, saya merasa ketegangannya benar-benar terasa. Semoga penonton juga bisa merasakan kengerian yang sama saat menyaksikan filmnya di bioskop nanti,” ujar Annette dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Kamis (9/4/2026) malam.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |