Feminisme: Agenda di Balik Tirai

2 weeks ago 4

Image Ana Fras

Humaniora | 2025-11-14 15:25:58

Gambar: internet

Gelombang feminisme modern dan gerakan gender yang muncul dari masyarakat Barat sering dipromosikan sebagai proyek pembebasan perempuan. Namun semakin lama diamati, semakin jelas terlihat bahwa gerakan ini bukan sekadar tuntutan hak-hak perempuan, melainkan proyek rekayasa identitas yang menyasar struktur paling dasar dalam tatanan sosial: keluarga, peran gender, dan fitrah manusia. Ia lahir dari akar sejarah Barat yang sarat ketidakadilan, kemudian tumbuh dalam ruang sekularisme yang memutus perempuan dari agama dan peran alami mereka.

Feminisme modern muncul sebagai respons terhadap ketidakadilan yang dulu dialami perempuan di Barat. Namun respons itu berkembang menjadi ideologi yang menuntut pembebasan total, suatu gagasan yang menolak struktur biologis dan moral. Dalam ruang sekuler, perempuan didorong untuk melepaskan identitas keibuannya dan menempatkan karier sebagai pusat hidup. Gerakan gender lebih jauh menolak perbedaan laki-laki dan perempuan sebagai fitrah, dan menganggapnya sebagai konstruksi sosial yang dapat diubah sesuai kehendak.

Proyek ini tidak berhenti di masyarakat Barat. Melalui lembaga internasional, konvensi global, dan pendanaan institusi keuangan besar, ideologi feminis diupayakan agar menjadi standar universal. Negara-negara Muslim didorong untuk mengadopsi konsep “kesetaraan gender absolut” yang dalam aplikasinya berarti menolak perbedaan peran, merombak struktur keluarga, dan mengaburkan batas moral yang telah dijaga oleh Islam selama berabad-abad.

Di balik slogan-slogan menarik seperti “pemberdayaan perempuan”, tersembunyi gagasan-gagasan yang lebih radikal. Feminisme modern menganggap keluarga tradisional sebagai belenggu, peran keibuan sebagai hambatan, dan kepemimpinan laki-laki sebagai bentuk penindasan. Gerakan gender bahkan melangkah lebih jauh dengan mempromosikan gagasan bahwa identitas biologis dapat dipilih, bukan anugerah fitrah. Normalisasi perubahan gender dan pernikahan sesama jenis bukan lagi wacana pinggiran, tetapi agenda politik yang ditegakkan melalui regulasi dan kampanye moral.

Dampaknya terlihat jelas dalam masyarakat Barat yang sering dijadikan teladan. Struktur keluarga menunjukkan erosi signifikan. Data Census Bureau Amerika Serikat pada 2024 menunjukkan bahwa hanya sekitar 64 persen rumah tangga yang masih berstatus “family households”, turun jauh dari sekitar 79 persen lima puluh tahun lalu. Untuk orang dewasa, hanya 37 persen yang tinggal dengan pasangan dan anak-anak. Angka ini menggambarkan perubahan tajam di mana keluarga inti tidak lagi menjadi struktur dominan dalam masyarakat.

Posisi perempuan dalam pasar tenaga kerja juga menjadi indikator penting. Walaupun feminisme mengklaim bahwa perempuan di Barat telah memperoleh kebebasan penuh, data justru memperlihatkan tekanan struktural yang besar. Pada 2024, pekerja perempuan penuh waktu di AS rata-rata hanya menerima 80,9 sen untuk setiap dolar yang diterima laki-laki. Jika seluruh jenis pekerjaan dihitung, termasuk paruh waktu dan musiman, angkanya turun menjadi 75,6 sen. Ketimpangan ini menandakan bahwa janji kesetaraan ekonomi masih jauh dari kenyataan, meskipun gerakan feminis telah mendominasi wacana publik selama puluhan tahun.

Di bawah permukaan, perempuan menanggung beban yang berat. Mereka didorong untuk bekerja demi kemandirian, tetapi tetap memikul tanggung jawab domestik sendirian. Hubungan tanpa komitmen menjadi norma, dan perempuan kerap ditinggalkan tanpa dukungan suami dan keluarga besar. Alih-alih mendapatkan perlindungan sosial dan stabilitas, mereka justru menghadapi tekanan hidup yang semakin meningkat. Feminisme modern menjanjikan pembebasan, tetapi hasil akhirnya adalah kelelahan, ketidakpastian, dan kerentanan ekonomi.

Gerakan gender lebih ekstrem lagi menimbulkan kekacauan identitas. Ketika jenis kelamin diklaim sebagai pilihan yang dapat diubah, masyarakat kehilangan orientasi moral. Dalam lingkungan seperti ini, batas-batas yang menjaga keseimbangan sosial menjadi kabur. Kekacauan identitas melahirkan kekacauan moral, dan ujungnya merongrong fondasi keluarga dan generasi.

Di sisi lain, Islam menawarkan kerangka moral dan sosial yang lebih seimbang dan tahan uji. Perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan dianggap sebagai ketidakadilan, tetapi sebagai desain fitrah yang menciptakan harmoni. Islam menempatkan perempuan sebagai sosok yang dimuliakan, dilindungi, dan memiliki hak-hak yang jelas. Peran laki-laki sebagai penanggung nafkah dan pelindung keluarga bukanlah dominasi, tetapi tanggung jawab untuk memastikan perempuan tidak dieksploitasi oleh pasar dan tidak terbebani oleh beban ganda yang kini menjadi nasib banyak perempuan di Barat.

Keluarga dalam Islam bukan konstruksi sosial buatan manusia, tetapi institusi ilahiah yang diciptakan sebagai pusat ketenangan, kasih sayang, dan kelangsungan generasi. Ketika feminisme modern menganggap peran ibu sebagai hambatan bagi kebebasan, Islam memuliakan peran itu sebagai salah satu pilar utama peradaban. Ketika modernitas menuntut kesetaraan absolut, Islam mengajarkan keadilan yang mempertimbangkan perbedaan fitrah.

Gerakan feminis dan gender, dengan segala retorika yang memikat, telah membawa Barat kepada krisis keluarga, kebingungan identitas, dan ketidakseimbangan sosial. Karena itu umat Islam perlu membangun kesadaran ideologis yang kuat. Islam menawarkan model sosial yang menjaga martabat perempuan, menyeimbangkan peran, dan melindungi keluarga. Menjaga konsep perempuan menurut Islam bukan hanya kewajiban spiritual, tetapi kebutuhan peradaban untuk mencegah hilangnya identitas, generasi, dan struktur masyarakat.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |