Dorong Swasembada Gula Nasional, GULA Tekankan Pentingnya Benih Unggul dan Peningkatan Rendemen Tebu

1 hour ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Target pemerintah untuk mewujudkan swasembada gula nasional dalam dua tahun, menjadi momentum penting bagi transformasi industri gula Indonesia. Bagi PT Aman Agrindo Tbk (GULA), pencapaian target tersebut tidak hanya membutuhkan perluasan areal tebu, tetapi juga peningkatan produktivitas tanaman dan kualitas bahan baku melalui perbaikan kualitas benih serta peningkatan rendemen tebu. 

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menargetkan Indonesia dapat mencapai swasembada gula dalam dua tahun sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian pangan nasional. Pemerintah juga giat mempercepat program peremajaan tebu, pengembangan kawasan tebu skala besar, peningkatan produktivitas, dan penyediaan benih untuk mendukung pencapaian target tersebut. 

Kementerian Pertanian menargetkan produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional mencapai sekitar 3,04 juta ton pada 2026. Di saat yang sama, pemerintah juga terus mendorong peningkatan produktivitas tebu melalui kewajiban bagi pabrik gula untuk memiliki kebun di dalam negeri, dan meningkatkan kerja sama antara pabrik gula swasta, Badan Usaha Milik Negara, dan petani lokal.  

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan tebu, perdagangan gula dan industri gula, PT Aman Agrindo Tbk (GULA) memandang peningkatan produktivitas dari sisi hulu sebagai salah satu kunci keberhasilan swasembada gula nasional.  “Indonesia tidak cukup hanya menambah luas lahan tebu. Produktivitas per hektare juga harus ditingkatkan. Salah satu fondasi terpentingnya adalah kualitas benih. Tanaman yang berasal dari benih unggul dan sesuai dengan karakteristik lahannya akan memberikan peluang produktivitas dan rendemen yang lebih baik,” ujar Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk, Andreas Utomo.  

Dalam industri gula, peningkatan produksi tidak semata-mata ditentukan oleh luas lahan. Produktivitas tebu per hektare dan rendemen, yaitu persentase kandungan gula yang dapat diperoleh dari tebu yang digiling, menjadi faktor penting dalam menentukan hasil akhir gula yang diproduksi.  

Karena itu, Andreas mengungkapkan, perbaikan rendemen perlu dilakukan secara menyeluruh sejak tahap budidaya. Penggunaan varietas tebu unggul, kualitas bibit yang terjamin, kesesuaian varietas dengan kondisi agroklimat, tata kelola budidaya, hingga pengolahan di pabrik, perlu menjadi satu kesatuan dalam peningkatan produktivitas industri gula nasional. 

Menurutnya, pemerintah dan pelaku industri dapat memperkuat ekosistem perbenihan tebu melalui penyediaan benih unggul yang terstandarisasi, sehat, produktif dan sesuai dengan karakteristik wilayah, serta memastikan distribusinya dapat menjangkau petani secara lebih luas. 

“Perbaikan benih merupakan investasi jangka panjang. Jika kualitas tanaman sejak awal sudah lebih baik, maka produktivitas tebu dan potensi rendemennya juga dapat meningkat. Karena itu, program peremajaan tebu nasional idealnya tidak hanya berbicara mengenai berapa hektare lahan yang diremajakan, tetapi juga mengenai kualitas varietas dan benih yang digunakan,” lanjut Andreas.  

GULA menilai, penguatan sistem perbenihan juga perlu disertai dengan pengembangan pusat pembibitan dan pengawasan mutu benih secara berkelanjutan. Dengan demikian, program perluasan dan peremajaan tebu dapat menghasilkan peningkatan produktivitas yang terukur, bukan sekadar fokus pada peningkatan luas tanam. 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |