REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dari kejauhan, Teluk Persia tampak tenang di pagi hari. Namun di balik cakrawala yang sunyi itu, ketegangan menggantung seperti awan hitam yang siap meledak.
Pesawat tempur Israel dan Amerika Serikat terus mengintensifkan patroli udara, sementara Iran memperkuat pertahanan pesisirnya dengan rudal-rudal yang siap diluncurkan dalam hitungan menit.
Di tengah riuh rendah eskalasi militer, dunia kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik yang tak kunjung usai: siapakah sebenarnya Iran? Apakah ia poros perlawanan yang berani menantang hegemoni imperialisme Barat? Atau justru rezim otoriter dengan ambisi ideologis yang ikut memperdalam krisis berkepanjangan di Timur Tengah?
Pertanyaan ini, meskipun penting, kerap menjebak kita dalam dikotomi yang menyesatkan. Di satu sisi, kita ditawari narasi Barat yang membenarkan intervensi asing atas nama demokrasi, hak asasi manusia, atau non-proliferasi nuklir.
Di sisi lain, kita tergelincir dalam perspektif “seperti kubu” yang membebaskan rezim politik, apa pun perilakunya, hanya karena ia berani melawan Amerika Serikat. Akibatnya, kita dihadapkan pada pilihan yang salah: mengagungkan Iran sepenuhnya sebagai negara perlawanan, atau mengutuknya sepenuhnya sebagai kekuatan otoriter yang menekan rakyatnya sendiri.
Dikotomi ini menutup pintu menuju pemahaman yang utuh, sekaligus menghindari kompleksitas sesungguhnya dari konflik yang sedang membara, sebagaimana ditulis seorang kolomnis Al Jazeera Ahmed Nabawy pada Senin (23/3/2026).
Untuk melepaskan diri dari jebakan reduksionisme ini, kita perlu menggunakan perangkat analisis ekonomi politik kritis. Bukan sekadar menafsirkan perilaku Iran berdasarkan posisi eksternalnya, tetapi membedah struktur sosial-ekonominya secara mendalam. Sebab, bagaimana Iran bertindak di kawasan tidak bisa dilepaskan dari bagaimana ia mengelola kekuasaan di dalam negeri.
Kapitalisme Negara di Balik Jubah Revolusi
Salah satu kunci untuk memahami Iran hari ini adalah dengan melihat peran sentral Garda Revolusi dan yayasan amalnya yang dikenal sebagai bonyad. Entitas-entitas ini telah lama melampaui fungsi militer atau sosial semata.
Mereka kini menjelma menjadi mesin akumulasi modal raksasa yang menguasai sektor-sektor strategis seperti energi, konstruksi, telekomunikasi, dan perbankan. Dalam praktiknya, struktur ini membentuk semacam oligarki keuangan-militer yang menjalankan konsentrasi kekayaan dalam skala luar biasa.
Kenyataannya, tulis Nabawy, Revolusi Iran, yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai gerakan pembebasan dari cengkeraman imperialisme, tidak melahirkan alternatif sejati terhadap kapitalisme.
"Yang terjadi justru sebaliknya: revolusi tersebut melahirkan versi kapitalisme yang menyimpang. Di balik citra perlawanan terhadap imperialisme, Iran menjalankan model klasik “kapitalisme negara birokratis”, di mana hubungan-hubungan kapitalis yang eksploitatif tidak dihapuskan, tetapi justru diintegrasikan dan dikelola secara terpusat melalui aparatur negara" tulis Nabawy.

6 hours ago
2

















































