CANTIKA.COM, Jakarta - Membangun bisnis tidak hanya soal bagaimana sebuah perusahaan bisa bertahan dan berkembang, tetapi juga tentang seberapa besar keberadaannya memberi dampak bagi orang lain. Begitulah prinsip CEO KONEKIN Indonesia,Marthella Sirait, social enterprise yang berfokus pada inklusi penyandang disabilitas di dunia kerja, ia membawa semangat tersebut melalui tiga prinsip: inclusion, innovation, dan impact. Prinsip itu pula yang mengantarkan KONEKIN masuk dalam kategori Transformasi Digital bidang Social Enterprise dalam Apresiasi Swara Cantika 2026.
Bagi Marthella Sirait, teknologi bukan sekadar alat untuk membuat pekerjaan menjadi lebih cepat. Teknologi justru dapat menjadi jembatan untuk membuka akses yang sebelumnya sulit dijangkau, termasuk bagi pencari kerja penyandang disabilitas. Melalui platform Berdaya, KONEKIN memanfaatkan AI untuk membantu pencari kerja membuat CV yang lebih ramah ATS sekaligus membantu perusahaan menemukan talenta disabilitas yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Namun, perjalanan membangun ekosistem kerja yang inklusif tentu tidak berhenti pada teknologi. Marthella percaya perubahan harus dimulai dari kepemimpinan, budaya perusahaan, aksesibilitas, hingga cara perusahaan melihat penyandang disabilitas sebagai talenta yang memiliki kompetensi. Kepada Cantika, ia bercerita tentang bagaimana KONEKIN dibangun sebagai “laboratorium” inklusivitas, tantangan dunia kerja bagi penyandang disabilitas, hingga perjalanan personalnya sebagai perempuan yang memilih meninggalkan jalur pekerjaan yang stabil demi membangun social enterprise.
Berikut Marthella Sirait berbincang dengan Cantika pada Kamis, 3 September 2026 di kantor KONEKIN Indonesia.
Apa prinsip kepemimpinan yang paling Anda pegang dalam membangun KONEKIN?
Marthella Sirait: Saya selalu berpegang pada prinsip being a role model. Kalau kita bicara tentang inklusivitas dan disabilitas, menurut saya KONEKIN harus menjadi contoh terlebih dahulu. Jangan sampai kita meminta perusahaan lain untuk inklusif, tetapi di internal kita sendiri tidak menerapkannya.
Karena itu, sejak awal kami berusaha membangun KONEKIN sebagai sebuah living example. Salah satu co-founder kami adalah perempuan dengan disabilitas fisik yang sekarang sedang melanjutkan S2 di Inggris. Di tim kami juga ada perempuan dengan hard of hearing yang menjadi operational and learning specialist. Kami pernah menerima intern dengan kondisi autoimun, disabilitas fisik, maupun disabilitas mental.
Jadi, sebelum mengajak perusahaan lain berubah, kami ingin menunjukkan bahwa perusahaan yang inklusif itu bisa tumbuh dan tetap menjadi bisnis yang baik.
Founder KONEKIN, Marthella Sirait saat melakukan sosialiasi disabilitas di NTT/Foto: Doc. KONEKIN
KONEKIN membawa misi sosial, tetapi pada saat yang sama harus bertahan sebagai bisnis. Bagaimana menjaga keduanya tetap berjalan?
Marthella Sirait: Karena meskipun ada kata social-nya, it’s still enterprise, it’s still a business. Jadi kami punya tiga pilar, yaitu inclusion, innovation, dan impact.
Inclusion berarti kami memberdayakan penyandang disabilitas, baik di dalam KONEKIN maupun melalui program-program yang kami jalankan. Innovation artinya kami harus terus mencari cara baru, terutama bagaimana meyakinkan perusahaan untuk membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas. Sementara impact berarti dampaknya harus benar-benar terasa, bukan hanya secara sosial tetapi juga secara bisnis dan finansial.
Kami lebih memilih quality over quantity. Tidak harus punya ribuan klien, tetapi kalau klien yang ada puas dengan layanan kami, mereka akan merekomendasikan KONEKIN kepada perusahaan lain. Word of mouth itu yang sampai sekarang membantu kami bertahan, bahkan ketika isu disabilitas belum selalu menjadi prioritas utama.
Apa tantangan terbesar penyandang disabilitas ketika ingin masuk ke dunia kerja?
Marthella Sirait: Salah satu tantangan terbesarnya adalah kesempatan kerja yang memang masih terbatas. Bahkan secara umum saja angka pengangguran terbuka masih menjadi tantangan. Ketika kondisi ekonomi, sosial, dan politik sedang tidak stabil, perusahaan biasanya lebih fokus pada bagaimana mempertahankan penjualan daripada melakukan rekrutmen.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan AI juga membuat beberapa pekerjaan yang sebelumnya dilakukan manusia mulai tergantikan. Jadi tantangannya semakin kompleks.
Masalah lainnya adalah cara pandang. Di Indonesia, perekrutan penyandang disabilitas terkadang masih dipandang sebatas memenuhi kuota, yaitu 1 persen untuk perusahaan swasta dan 2 persen untuk BUMN. Padahal seharusnya mereka direkrut karena kompetensinya.
Sekitar 80 persen klien kami merupakan perusahaan internasional. Salah satu alasannya karena mereka biasanya sudah memiliki kesadaran tentang DEI dari kantor pusatnya. Mereka melihat kandidat berdasarkan kompetensi, bukan karena rasa kasihan.
Di titik inilah teknologi kemudian digunakan KONEKIN untuk mempertemukan perusahaan dengan talenta disabilitas. Bagaimana prosesnya?
Marthella Sirait: Dulu prosesnya sangat manual. Ketika ada perusahaan yang membutuhkan tiga atau empat pekerja disabilitas, kami bisa membutuhkan waktu sekitar tiga minggu hanya untuk melakukan screening CV. Setelah itu baru shortlist, interview, tes sesuai posisi, lalu masuk ke proses perusahaan. Secara keseluruhan bisa mencapai sekitar satu setengah bulan.
Padahal pencari kerja disabilitas juga sering kali mengirim lamaran ke banyak tempat karena kesempatan yang tersedia memang lebih sedikit. Akibatnya inbox kami bisa penuh sekali.
Dari situ kami berpikir, bagaimana tiga minggu itu bisa menjadi tiga hari, bahkan kalau memungkinkan hanya beberapa jam? Maka kami mengembangkan platform Berdaya.
Di platform ini, pencari kerja bisa mengisi informasi sederhana untuk kemudian dibantu AI membuat CV satu halaman yang lebih baik dan ATS-friendly. Kami juga menggunakan AI untuk membantu melakukan matching dan menyaring kandidat dari talent pool yang besar.
Bagi saya, CV adalah gerbang pembuka rezeki. Jadi CV yang baik itu penting. Terutama sekarang banyak perusahaan, termasuk BUMN, yang menggunakan sistem ATS dalam proses rekrutmen.
Founder KONEKIN, Marthella Sirait menjadi pembicara dalam Disability Equality Training/Foto: Doc. KONEKIN
Apakah berarti AI nantinya menggantikan peran manusia di KONEKIN?
Marthella Sirait: Tidak. Dalam pekerjaan sehari-hari, kami masih sangat mengandalkan manusia. AI lebih banyak kami gunakan sebagai alat untuk mempercepat proses tertentu. Di Berdaya, misalnya, AI membantu proses pembuatan CV dan matching kandidat. Tetapi kami tetap memastikan ada proses validasi. Perusahaan harus jelas dan bukan perusahaan palsu. Pencari kerja juga perlu memberikan dokumen disabilitas untuk memastikan statusnya.
Jadi teknologi membantu kami membuat proses lebih cepat dan aman, tetapi keputusan dan pendampingannya tetap membutuhkan manusia.
Bagaimana agar perusahaan tidak berhenti pada sekadar merekrut penyandang disabilitas untuk memenuhi kuota?
Marthella Sirait: Menurut saya, inklusivitas tidak bisa hanya menjadi program atau CSR. Kalau hanya program, keberlanjutannya akan sulit. Inklusivitas harus masuk menjadi nilai perusahaan dan akhirnya menjadi bagian dari bisnis inti.
Leadership sangat penting karena banyak perubahan di perusahaan membutuhkan keputusan dari level atas. Kemudian setelah merekrut, jangan berhenti pada internship atau outsourcing. Harus ada roadmap dan career path. Kami melihat perusahaan seperti Go Trade Indonesia yang berani merekrut pekerja disabilitas sebagai karyawan tetap. Itu jauh lebih berkelanjutan karena hak, manfaat, dan remunerasi yang diterima juga berbeda.
Perusahaan juga perlu melihat lingkungan kerjanya. Pernah ada perusahaan yang awalnya ingin merekrut tiga pekerja disabilitas. Sebelum itu, kami melakukan pelatihan kepada manager dan user serta asesmen aksesibilitas. Ternyata kantornya belum memiliki ramp, parkir disabilitas, maupun toilet disabilitas. Setelah mendapat persetujuan CEO, dalam waktu sekitar satu bulan mereka memperbaikinya, bahkan menambahkan guiding block di dalam ruangan.
Jadi produktivitas seseorang bukan hanya soal individunya. Lingkungannya juga harus mendukung.
Bagaimana membuat inklusivitas menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan hanya urusan HR?
Marthella Sirait: Ketika satu pekerja disabilitas masuk ke perusahaan yang 99 persennya adalah non-disabilitas, sebenarnya yang perlu dipersiapkan bukan hanya satu orang itu. Kita juga harus mempersiapkan 99 persen orang lainnya untuk menerima dia.
Hal sederhana bisa dilakukan, misalnya melalui newsletter internal yang memperkenalkan anggota baru dan memberikan pemahaman mengenai disabilitasnya. Dalam meeting mingguan, bisa diberikan waktu 10–15 menit bagi pekerja disabilitas untuk bercerita tentang pengalamannya, apa yang membantu dan apa yang masih menjadi hambatan. Informasi itu kemudian bisa masuk ke strategi perusahaan. Bahkan bisa masuk ke pengembangan produk.
Misalnya perusahaan kosmetik memiliki kemasan yang sulit dibuka oleh orang dengan keterbatasan pada tangannya. Kalau desainnya diperbaiki agar lebih mudah digunakan, produknya bukan hanya menjadi lebih inklusif, tetapi juga bisa menjangkau konsumen yang lebih luas. Jadi inklusivitas sebenarnya bisa menjadi pintu inovasi dan perluasan pasar.
Founder KONEKIN, Marthella Sirait di acara Program Bersiap Academy/Foto: Doc. KONEKIN
Apa inovasi yang ingin dikembangkan KONEKIN selanjutnya?
Marthella Sirait: Salah satu impian besar kami adalah membuat tes psikologi yang benar-benar aksesibel bagi penyandang disabilitas. Banyak tes psikologi masih sangat visual, seperti menggambar, menarik garis, atau tes yang membutuhkan kecepatan tinggi. Bagi penyandang tunanetra, misalnya, format seperti itu tentu menjadi hambatan.
Kami pernah memberikan masukan kepada penyedia tes agar sistem mereka bisa kompatibel dengan screen reader. Tetapi untuk membuat alat tes psikometri yang benar-benar aksesibel, tentu dibutuhkan riset dan pengujian langsung bersama penyandang disabilitas.
Selain itu, saya juga punya mimpi membuat semacam sertifikasi atau badge perusahaan inklusif di Indonesia. Jadi bukan sekadar sertifikat bahwa perusahaan sudah mempekerjakan penyandang disabilitas, tetapi ada tingkatannya. Misalnya, perusahaan yang baru mulai berada di Tier 1, kemudian naik ketika sudah memiliki proses rekrutmen dan keberlanjutan yang lebih baik, sampai akhirnya mencapai best practice.
Saat ini beberapa perusahaan bahkan sudah bertanya kepada kami, “Apakah ada sertifikasi untuk menunjukkan bahwa perusahaan kami sudah inklusif?” Jadi menurut saya, ini adalah sesuatu yang perlu dikembangkan bersama lembaga akreditasi dan pihak terkait.
Founder KONEKIN, Marthella Sirait menjadi pembicara di acara talkshow JSC dan Lab Sharing bersama KONEKIN menuju dunia kerja yang inkusif dan aksesible/Foto: Doc. Konekin
Perjalanan membangun KONEKIN sendiri tidak datang dari latar belakang keluarga pengusaha. Apa yang paling membentuk perjalanan tersebut?
Marthella Sirait: Saya bukan berasal dari keluarga pengusaha. Saya juga pernah menjadi PNS hampir empat tahun karena waktu itu orang tua melihat pekerjaan tersebut sebagai sesuatu yang stabil.
Sebelumnya saya bekerja di lembaga riset dan kemudian bergabung dengan Indonesia Mengajar. Justru Indonesia Mengajar menjadi titik penting dalam hidup saya. Saya mulai menyadari bahwa mungkin panggilan saya bukan bekerja di perusahaan korporasi, tetapi bekerja untuk masyarakat.
Waktu di daerah, saya bertemu tiga murid dengan kebutuhan khusus. Mereka menjadi eye-opener bagi saya. Saya melihat bahwa ada anak-anak yang mungkin tidak punya gambaran tentang masa depan mereka hanya karena mereka memiliki disabilitas.
Dari sana saya mulai berpikir, bagaimana kalau saya mencari cara untuk membantu mereka? Dan akhirnya lahirlah KONEKIN. Perjalanannya tidak selalu lurus. Tapi sekarang saya justru melihat setiap jalan berliku itu sebagai modal. Ketika menjadi PNS, saya belajar bagaimana pemerintah bekerja dan bagaimana berkomunikasi dengan institusi. Sekarang ketika KONEKIN bekerja sama dengan pemerintah, pengalaman itu menjadi sangat berguna.
Apa pesan Anda untuk perempuan muda yang ingin membangun bisnis berbasis teknologi dan dampak sosial?
Marthella Sirait: Start from small things. Jangan merasa harus langsung menyelesaikan masalah yang besar. KONEKIN sendiri berawal dari tiga anak di daerah yang membuat saya bertanya, sebenarnya apa yang bisa dilakukan untuk mereka?
Jadi, sensitiflah terhadap lingkungan sekitar. Lihat masalah apa yang ingin kita selesaikan. Kalau memang harus bekerja di korporasi atau menjadi PNS terlebih dahulu, tidak apa-apa. Jadikan tempat itu sebagai ruang belajar.
Karena membangun bisnis membutuhkan kapasitas. Apalagi kalau kita bukan berasal dari keluarga pengusaha. Kita harus banyak belajar dengan cara learning by doing.
Dan yang paling penting, jangan terlalu mengejar angka. Fokus pada kualitas dan kepuasan. Kalau kita memberikan sesuatu yang baik, membangun kepercayaan, orang akan datang kembali dan bahkan merekomendasikan kita kepada orang lain.
Menurut saya, kalau sebuah mimpi membutuhkan waktu lebih panjang, bukan berarti mimpi itu salah. Mungkin memang sedang waktunya kita mengumpulkan bekal untuk sampai ke sana.
Pilihan Editor: Kategori-kategori di Apresiasi Swara Cantika: Mencatat Perempuan Penggerak Perubahan untuk Indonesia
SALSABILLA FARKA KIRANI | ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































