OPERATOR seluler membutuhkan energi listrik yang besar seiring peningkatan layanan digital dan video streaming yang mendorong peningkatan trafik koneksi internet berkecepatan tinggi. Diperkirakan, konsumsi listrik jaringan seluler di Indonesia mencapai 14,7 GigaWatt jam (GWh) per hari, atau dalam setahun 5,4 TeraWatt jam (TWh) atau setara 13 persen listrik yang didistribusikan ke Jakarta menurut data BPS 2024.
“Pulau Jawa menjadi wilayah dengan konsumsi energi terbesar karena menyerap sekitar 51 persen dari total kebutuhan energi jaringan telekomunikasi selular nasional,” kata Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Telekomunikasi Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), Mochamad Mardi Marta Dinata, dalam keterangannya, Sabtu 23 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Mardi mengungkap perkiraan berbasis pemodelan yang dikerjakan tim di BRIN. Dalam kajian tersebut, tim peneliti menggunakan data sekitar 8.500 menara pemancar sinyal seluler (BTS) yang tersebar di wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Dari jumlah tersebut dipilih 40 sampel lokasi yang mewakili pola konsumsi energi beberapa tipe BTS, seperti Macro, Micro, Pico, dan In-Building System (IBS). Data tersebut kemudian digunakan untuk membuat pemodelan kebutuhan energi jaringan seluler secara nasional.
Menurut Mardi, kepadatan penduduk mempengaruhi kebutuhan jenis menara BTS di suatu wilayah. Operator seluler memasang banyak BTS yang memiliki jangkauan sinyal lebih kecil untuk menjaga kualitas layanan komunikasi di wilayah padat penduduk. Jenis BTS itu seperti Micro, Pico, dan IBS yang meningkatkan sinyal seluler di dalam gedung. Dampaknya, sekitar 20 persen biaya operasional operator habis digunakan untuk membeli bahan bakar dan membayar listrik. “Berdasarkan laporan tahunan salah satu operator telekomunikasi di Indonesia, hampir 90 persen konsumsi energi itu berasal dari operasional BTS,” ujar Mardi.
Di sisi lain, Mardi mengungkap analisis PricewaterhouseCoopers yang menyatakan peningkatan pendapatan pada industri telekomunikasi dari 2021 hingga 2032 hanya sekitar 1,2 persen. Jadi, dia menyarankan, operator harus giat menggenjot penjualan dengan paket-paket menarik. Cara lain, menurutnya, dengan efisiensi biaya energi. “Potensi yang sangat besar untuk melakukan efisiensi dengan menggunakan atau membeli green energy sendiri,” katanya.
Dalam perbincangan secara daring pada Rabu 20 Mei 2026, Mardi mengatakan bahwa beberapa tahun ke belakang muncul istilah generasi energi hijau yang disebut Hybrid Renewable Energy System (HRES). Teknologinya mengombinasikan pasokan listrik dari jaringan, generator diesel, dengan baterai sebagai penyimpan cadangan listrik selama 2-4 jam. Penambahan energi terbarukannya bisa dengan panel surya, turbin angin, mikrohidro atau pembangkit listrik tenaga air berskala kecil.
Menurutnya, pada 2010 sebuah operator telekomunikasi seluler pernah merintis instalasi energi terbarukan di 14 lokasi di Kalimantan dan Sumatera. Namun begitu sampai sekarang tidak berkembang untuk digunakan pada banyak lokasi lain. “Sesuai target nasional seluruh industri di Indonesia harus menyesuaikan perkembangan usahanya dengan transisi energi,” kata Mardi.















































