DIREKTUR Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menyatakan bahwa BI akan terus berupaya keras menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Pernyataan tersebut menanggapi pergerakan kurs RI yang makin tersungkur dihantam penguatan dolar Amerika Serikat.
“Bank Indonesia all out akan terus berada di pasar untuk memberikan jaminan bahwa rupiah itu tetap akan stabil, dan secara perlahan kami akan membuat rupiah itu menguat,” ucap Denny di kompleks DPR, Senayan, Jakarta, 7 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Saat bank sentral menaikkan suku bunga acuan alias BI-rate, rupiah sempat kembali ke level Rp 17 ribu per dolar AS dari sebelumnya sempat menembus level Rp 18 ribu per dolar AS. Namun hingga pekan ini, rupiah kembali mendekati ambang batas tersebut. Mengutip data Trading Economics, pada Rabu siang, 8 Juli 2026, rupiah bahkan sempat kembali terperosok ke level Rp 18.003 per dolar AS.
Denny menjelaskan sentimen yang paling memengaruhi merosotnya nilai tukar rupiah saat ini. Salah satunya adalah sinyal hawkish dari para pejabat bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dalam pertemuan rutin Federal Open Market Committee (FOMC) 17 Juni 2026 lalu.
Menurut dia, meski The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan alias Fed Fund Rate pada FOMC meeting, pasar mengamati kecenderungan kebijakan moneter yang diperkirakan mengetat. Sentimen itu memicu Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) menguat dan menekan mata uang negara-negara berkembang termasuk rupiah.
“Jadi sinyal hawkish itu mengindikasikan bagaimana suku bunga Fed Fund Rate di masa-masa yang akan datang terutama tahun ini yang memang probability-nya adalah tidak lagi turun tetapi akan naik,” ucap Denny.
Ia menambahkan bahwa sentimen itu memancing reaksi pergerakan Indeks dolar AS. Pada Januari 2026 lalu DXY masih di angka 95. Tetapi di akhir Juni Indeks dolar AS itu telah meningkat hingga 101.
Rupiah bukan satu-satunya yang terperosok terhadap dolar Amerika Serikat. Berdasarkan pengamatan BI, mata uang Rusia melemah paling dalam dibandingkan emerging market lain. Rubel Rusia telah mengalami depresiasi 5,5 persen. Selain itu, Baht Thailand merosot 2,3 persen dan rupiah melemah 1,4 persen. Won Korea dan Peso Filipina juga merosot 1 persen. Sedangkan Rupee India turun 0,7 persen dan Renminbi Cina 0,5 persen.
Bank Indonesia telah melakukan sejumlah upaya untuk menahan pelemahan rupiah. Di antaranya menaikkan BI-rate secara kumulatif 100 basis poin pada periode Mei hingga Juni, hingga mencapai level 5,75 persen. Selain itu BI aktif melakukan operasi pasar di dalam dan luar negeri. Serta menawarkan imbal hasil menarik di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik modal asing masuk ke pasar domestik.
Menurut Denny BI tidak akan tinggal diam. “Tentunya sinergi dari berbagai pihak itu sangat diperlukan untuk sama-sama membawa rupiah kita menguat terhadap dolar AS,” ucapnya.








































