Awal Tahun, Rupiah Ditutup Melemah, Ini Penyebabnya

2 hours ago 1

Karyawan menghitung uang dollar di money changer PT Valuta Artha Mas, ITC Kuningan, Jakarta, Selasa (8/4/2025). Nilai tukar rupiah dibuka melemah ke posisi Rp16.865 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (8/4/2025) usai libur Lebaran. Diketahui, penurunan nilai rupiah merupakan dampak dari kebijakan baru Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menerapkan tarif balasan atau resiprokal terhadap ratusan negara. Trump telah mengumumkan tambahan tarif untuk produk impor asal sejumlah negara, termasuk Indonesia sebesar 32 persen yang mulai berlaku penuh per 9 April 2025. Sejumlah mata uang Asia turut melemah. Yuan China melemah 0,17%, rupee India melemah 0,71%, dolar Hong Kong melemah 0,04% dan ringgit Malaysia melemah 0,16%.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (2/1) sore ditutup melemah 38 poin atau 0,23 persen ke level Rp 16.725 per dolar AS. Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi di Jakarta, Jumat, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen global dan geopolitik yang masih sarat ketidakpastian.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih mencermati risalah Rapat Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC) Desember yang dirilis pekan ini. Risalah tersebut menunjukkan pandangan pejabat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) yang terbelah terkait arah suku bunga ke depan.

Sebagian pejabat menilai suku bunga sebaiknya ditahan setelah tiga kali pemangkasan sepanjang tahun lalu, sementara lainnya membuka peluang penurunan lanjutan apabila inflasi terus melandai.

“Namun, beberapa pembuat kebijakan menilai kemungkinan akan tepat untuk mempertahankan penurunan suku bunga lebih lanjut jika inflasi menurun dari waktu ke waktu,” kata dia.

Tekanan eksternal juga datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik. Konflik Rusia dan Ukraina kembali memanas setelah kedua pihak saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru.

Situasi ini terjadi di tengah upaya diplomasi intensif yang dipimpin Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun.

Di sisi lain, AS juga meningkatkan tekanan terhadap Venezuela dengan menjatuhkan sanksi kepada empat perusahaan dan kapal tanker minyak yang dikaitkan dengan sektor energi negara tersebut. Langkah ini turut menambah kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |