Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (24/4/2026).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rupiah menguat pada perdagangan Senin (1/6/2026), bertepatan dengan hari pertama pemberlakuan kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) di dalam negeri. Namun, pelaku pasar masih mempertanyakan seberapa besar dampak kebijakan tersebut terhadap stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang.
Berdasarkan data pasar pada Senin sore, rupiah ditutup menguat 76 poin menjadi Rp 17.805 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp 17.880 per dolar AS. Penguatan ini terjadi setelah pemerintah mulai menerapkan aturan baru yang mewajibkan eksportir SDA menempatkan devisa hasil ekspor di dalam negeri.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai kebijakan DHE menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah pada awal pekan. Menurut dia, kewajiban penempatan dana ekspor di perbankan dalam negeri memberikan tambahan pasokan valuta asing bagi pasar domestik.
"Yang membuat rupiah hari ini mengalami penguatan adalah penerapan aturan baru DHE yang harus terparkir di perbankan Himbara. Ini cukup bagus," kata Ibrahim dalam pesan singkatnya.
Meski demikian, ia mengingatkan penguatan tersebut belum tentu bertahan lama. Menurut Ibrahim, perhatian investor saat ini masih lebih tertuju pada perkembangan geopolitik global, khususnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS.
Ia menilai sentimen eksternal masih menjadi faktor dominan yang menentukan arah rupiah. Karena itu, kebijakan DHE belum tentu mampu sepenuhnya meredam tekanan dari luar negeri.
"Ini hanya bersifat sementara," ujarnya.
Pemerintah resmi memberlakukan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 mulai 1 Juni 2026. Melalui aturan tersebut, eksportir SDA diwajibkan merepatriasi DHE ke dalam negeri dengan tingkat kepatuhan 100 persen. Untuk sektor nonmigas, dana wajib ditempatkan di rekening khusus dalam negeri selama minimal 12 bulan.
Pemerintah berharap kebijakan itu dapat memperkuat cadangan devisa, menjaga likuiditas valuta asing, serta menopang stabilitas rupiah. Namun, pasar masih menunggu efektivitas implementasinya, termasuk tingkat kepatuhan eksportir dan dampaknya terhadap pasokan valas di dalam negeri.
Ibrahim memperkirakan rupiah masih akan bergerak fluktuatif dalam beberapa hari ke depan. Bahkan, ia melihat peluang rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa (2/6/2026) jika sentimen global kembali mendominasi pasar.
sumber : Antara

6 hours ago
2















































