Ambisi Danantara Mengawal Puncak Pertumbuhan Ekonomi 2026

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memasuki tahun 2026, optimisme terhadap akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional berada pada titik tertingginya. Indonesia kini tengah menyiapkan landasan pacu untuk mencapai level pertumbuhan maksimum melalui integrasi kebijakan fiskal, moneter, serta instrumen investasi baru yang lebih progresif.

Di tengah tantangan geopolitik yang dinamis, kemampuan negara untuk mensinergikan seluruh mesin ekonomi menjadi kunci utama agar momentum kebangkitan ini tidak sekadar menjadi angka statistik, melainkan transformasi kesejahteraan yang nyata dan berkelanjutan.

Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) hadir sebagai instrumen strategis negara yang dirancang untuk mengonsolidasikan aset-aset besar dan dana investasi nasional guna memperkuat struktur modal dalam negeri. Sebagai Sovereign Wealth Fund yang memadukan peran manajemen investasi dan pengelolaan aset BUMN, Danantara berfungsi sebagai katalisator investasi jangka panjang yang tidak hanya mengejar profitabilitas, tetapi juga kemandirian ekonomi. Melalui lembaga ini, pemerintah berupaya menciptakan ekosistem bisnis yang lebih kompetitif dan berkelanjutan di panggung global.

Pada sisi fiskal, pemerintah mengandalkan inisiatif besar seperti program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk memacu penyerapan anggaran yang lebih cepat. Program ini diproyeksikan menjadi mesin pendorong konsumsi dari sisi permintaan yang konsisten, sekaligus menciptakan multiplier effect di tingkat lokal.

Sementara itu, dari sisi moneter, pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) sebesar 125 basis poin sepanjang tahun 2025 diprediksi akan mulai menunjukkan taringnya pada tahun 2026. Ekspansi kredit ini diperkirakan akan memulihkan permintaan pinjaman modal kerja seiring kembalinya aktivitas bisnis ke level puncaknya.

“Semua pendorong ini—fiskal, moneter, dan Danantara—yang dikombinasikan dengan momentum domestik, menunjukkan potensi pertumbuhan yang lebih cepat pada tahun 2026,” tulis Danantara dalam dokumen Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (16/1/2026).

Danantara sendiri akan berperan aktif melalui penyebaran modal awal oleh Danantara Investment Management (DIM) serta optimalisasi bisnis BUMN melalui Danantara Asset Management (DAM), yang membuka jalan bagi investasi masa depan yang lebih kokoh.

Dalam analisisnya, Danantara mencatat bahwa minat investasi di Indonesia pada dasarnya tetap kuat meski terjadi fluktuasi global. Selera pasar terhadap pinjaman investasi tidak pernah surut, yang dipandang sebagai pertanda menjanjikan. Model ekonomi yang dipimpin oleh investasi dianggap sebagai jalur teraman bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan PDB yang lebih tinggi dalam jangka panjang, dibandingkan hanya mengandalkan konsumsi rumah tangga semata.

Namun demikian, Danantara memberikan catatan kritis terkait penyempitan aktivitas investasi akhir-akhir ini. Terdapat tren di mana pertumbuhan investasi tahun lalu masih didominasi oleh pemain domestik, sementara investasi asing langsung (FDI) cenderung menurun akibat ketidakpastian global. Secara sektoral, ekspansi pinjaman juga masih terkonsentrasi pada industri terbatas, yaitu pertambangan, logistik, dan kesehatan, sehingga diperlukan diversifikasi yang lebih luas agar pertumbuhan lebih merata.

Selain tantangan sektoral, risiko makro seperti inflasi, imbal hasil, volatilitas nilai tukar, hingga potensi kenaikan kredit macet (NPL) tetap harus diwaspadai seiring percepatan ekonomi. Dalam kondisi ekstrem, tekanan-tekanan ini dapat memaksa otoritas bergeser dari kebijakan pro-pertumbuhan menuju sikap yang lebih konservatif. Oleh karena itu, penguatan produksi pangan dan industri domestik menjadi harga mati untuk menjaga inflasi tetap terkendali di tengah ambisi pertumbuhan maksimum.

Untuk menjaga kapasitas fiskal, Danantara menekankan pentingnya memperluas basis penerimaan pajak dan meningkatkan likuiditas domestik guna membiayai investasi masa depan. Tugas ini dinilai jauh lebih kompleks daripada sekadar merangsang permintaan melalui suku bunga atau belanja pemerintah. Hal ini membutuhkan penanganan serius terhadap tren jangka panjang yang selama ini menghambat ekonomi, seperti penurunan rasio pajak dan erosi daya saing manufaktur nasional.

Salah satu tantangan struktural yang paling mendasar adalah stagnasi likuiditas domestik relatif terhadap PDB yang telah terjadi sejak krisis keuangan Asia. Danantara memperingatkan bahwa tanpa ekspansi likuiditas yang memadai, pembiayaan proyek sektor publik berisiko menghambat (crowding out) akses modal bagi sektor swasta. Oleh karena itu, strategi moneter dan investasi yang terkalibrasi secara presisi sangat dibutuhkan untuk menghasilkan efek sinergis yang mengangkat posisi tawar Indonesia.

Mengangkat hambatan struktural yang telah lama membelenggu potensi ekonomi Indonesia adalah tugas berat yang memerlukan keberanian politik dan ketepatan eksekusi. Namun, Danantara meyakini bahwa jika transformasi ini dikelola dengan baik, hasilnya akan sangat transformatif. Indonesia bukan hanya akan tumbuh lebih cepat pada 2026, tetapi juga akan memiliki fondasi ekonomi yang lebih sehat dan berdaya tahan untuk dekade-dekade mendatang.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |