Dokter menunjukan cairan vaksin influenza Flubio kepada pasien di Klinik Pratama Dermaga Raya, Jakarta, Selasa (6/1/2026). Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 62 kasus influenza A (H3N2) subclade K atau superflu di Indonesia selama periode Agustus-Desember 2025 dengan mayoritas kasus terjadi pada perempuan dan anak-anak, sehingga masyarakat diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mendapatkan vaksinasi influenza tahunan. Selama periode Januari 2026, klinik tersebut sudah melayani sebanyak 150 pasien untuk mendapatkan vaksin influenza Flubio.
REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Pakar imunologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) menekankan penguatan surveilans laboratorium dan diagnosis molekuler. Tujuannya untuk deteksi dini varian influenza A H3N2 Subclade K atau superflu di Indonesia guna mencegah risiko komplikasi berat.
“Virus influenza, khususnya tipe A sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” kata pakar imunologi Departemen Mikrobiologi dan Parasitologi Kedokteran FK Unair, dr Agung Dwi Wahyu Widodo, dr, M.Si di Surabaya, Rabu (7/1/2026).
Ia menjelaskan virus influenza A memiliki variasi antigenik tinggi akibat perubahan pada protein permukaan hemaglutinin dan neuraminidase melalui proses antigenic drift, sehingga virus terus berevolusi dan berpotensi meningkatkan tingkat penularan maupun keparahan penyakit. Berdasarkan temuan terkini, varian H3N2 Subclade K telah terdeteksi di Indonesia, termasuk di Jawa Timur, dengan gejala klinis yang umumnya menyerupai influenza biasa, namun berisiko menimbulkan komplikasi seperti pneumonia pada kelompok rentan.
Menurut dr Agung, penguatan kapasitas laboratorium mikrobiologi klinik menjadi kunci dalam upaya kewaspadaan dini melalui pemeriksaan Real-Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) sebagai standar emas untuk membedakan influenza dari infeksi virus pernapasan lain, seperti Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2) dan Respiratory Syncytial Virus (RSV).
"Selain surveilans, vaksinasi influenza tahunan tetap diperlukan untuk menekan risiko keparahan penyakit, seiring kemampuan virus influenza yang terus bermutasi dari waktu ke waktu," katanya.
Dia mengimbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, sementara pemberian antivirus seperti oseltamivir dinilai efektif apabila dilakukan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak munculnya gejala awal.
sumber : Antara

1 day ago
8













































