INFO TEMPO - Warga Kota Bogor, Jawa Barat, kini tak perlu lagi antre di balai kota untuk mendapatkan pelayanan administrasi kependudukan hingga perizinan usaha. Pemerintah Kota Bogor telah melakukan transformasi, dari pelayanan yang bersifat administratif menjadi pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Transformasi yang dilakukan, salah satunya, melalui digitalisasi pelayanan publik. Masyarakat kini dapat menggunakan layanan publik terintegrasi yang sebagian besar telah dialihkan ke portal digital Bogor Single Window (BSW) dan pusat layanan fisik di Mal Pelayanan Publik (MPP) Grha Tiyasa di Lippo Plaza Keboen Raya. Sementara itu, untuk penanganan dan pelaporan pengaduan masyarakat secara real time, tersedia aplikasi resmi SiBadra.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Terobosan lain berupa pemanfaatan data sebagai dasar penyusunan kebijakan, integrasi pelayanan lintas perangkat daerah, peningkatan transparansi dan akuntabilitas, penyederhanaan prosedur pelayanan, serta penguatan budaya dan ekosistem inovasi di seluruh perangkat daerah. “Transformasi membuat pelayanan menjadi lebih cepat, adaptif, efektif, efisien, dan mudah dijangkau masyarakat,” kata Wali Kota Bogor Dedie Abdu Rachim.
Transformasi itu tak lepas dari inovasi yang dilakukan Pemkot Bogor. Dedie yakin sebuah inovasi bukan sekadar menciptakan sesuatu yang baru, melainkan juga menghadirkan solusi yang lebih efektif terhadap berbagai isu strategis dan permasalahan pembangunan.
Dedie melanjutkan, inovasi menjadi instrumen untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, dan memastikan manfaat pembangunan dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat. “Melalui inovasi, pemerintah dapat bekerja lebih cepat, efisien, transparan, serta responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” katanya.
Saat ini, Dedie Rachim tengah mempersiapkan command center yang nantinya dapat mengintegrasikan data dan memastikan interoperabilitas sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE) menuju Pemerintahan Digital yang efisien dan efektif. “Semua itu menjadi kontribusi Kota Bogor dalam mendukung Indonesia Emas 2045.”
Pemkot Bogor tak bergerak sendirian. Banyak pihak dipertemukan dalam satu ekosistem untuk bersama merawat budaya inovasi. Kampus tidak hanya tempat melahirkan penelitian, tapi juga menjadi mitra pemerintah dalam menyusun kebijakan. Dunia usaha diajak berkontribusi melalui program tanggung jawab sosial yang lebih berdampak. Komunitas diberi ruang menawarkan solusi atas persoalan perkotaan. Bahkan media menjadi bagian dari mata rantai yang mempercepat penyebaran gagasan baik.
Setiap tahun, masyarakat dilibatkan melalui forum konsultasi publik, Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), survei kepuasan publik, hingga kanal aspirasi digital. Pemkot Bogor juga membuka ruang kepada siapa saja untuk menjadi pencipta inovasi melalui berbagai kompetisi. Gagasan terbaik tak berhenti pada proposal lomba, tapi juga didorong agar bisa diterapkan dan memberi manfaat lebih luas.
Harapan yang sama disematkan kepada generasi muda. Lewat Bogor Innovation Award, pelajar sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas diberi panggung untuk menunjukkan bahwa kreativitas tidak mengenal usia. Pemkot Bogor ingin budaya berinovasi tumbuh sebelum para siswa memasuki dunia kerja atau perguruan tinggi. Langkah itu dilengkapi dengan penguatan literasi digital, pelatihan kewirausahaan, pengembangan ekonomi kreatif, serta kolaborasi bersama dunia industri dan perguruan tinggi. “Harapannya, lahir generasi yang adaptif, kreatif, dan mampu bersaing secara global,” kata Dedie.
Ketika setiap pemerintah daerah mampu menghasilkan inovasi yang berdampak, meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat daya saing ekonomi, serta menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat secara kreatif dan berkelanjutan, hal itu secara kolektif akan mempercepat pencapaian tujuan pembangunan nasional. (*)















































