Logo aplikasi Tiktok. Seorang kreator konten TikTok dengan nama pengguna @violettaaxandrea atau dikenal dengan nama Xander menuai kecaman karena kerap membuat video lelucon terhadap penyandang disabilitas.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seorang kreator konten TikTok dengan nama pengguna @violettaaxandrea atau dikenal dengan nama Xander menuai kecaman karena kerap membuat video lelucon terhadap penyandang disabilitas. Mirisnya, gaya konten seperti itu kerap digunakan untuk mempromosikan produk kecantikan yang bekerja sama dengannya.
Dalam video yang beredar, Xander terlihat sengaja meniru ekspresi penyandang kelompok disabilitas, kemudian ia tertawa sambil mencoba produk lip tint. Dalam video lainnya dia juga kembali membuat video menirukan gerakan penderita tic disorder yaitu gangguan saraf yang ditandai dengan gerakan, kedutan, atau suara tiba-tiba dan berulang yang terjadi di luar kendali.
Konten-konten Xander pun dikecam karena dianggap sebagai bentuk ableisme atau ableism. Merujuk American Psychological Association (APA), ableism merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas. Dalam banyak kasus, ableisme muncul dengan keenderungan yang merendahkan.
Ableism berdampak negatif terhadap penyandang disabilitas. Mereka bisa merasa semakin tidak berharga, direduksi hanya pada kondisi disabilitanya, serta mengalami stigma dan perlakuan yang tidak adil dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian menunjukkan bahwa penyandang disabilitas yang menonton atau melihat perilaku ableism ini berisiko mengalami masalah kesehatan mental, termasuk rasa malu, yang memicu gejala kecemasan dan depresi. Kecaman terhadap tindakan Xander datang dari Sadam Permana, yang juga kreator konten dan penderita tic disorder. Dalam unggahan video di TikToknya, Sadam menegaskan bahwa konten Xander sangat menyinggung dan sama sekali tidak lucu.
"Ini nggak lucu sama sekali dan bukan bahan candaan. Sebagai pemilik tic disorder, jujur ini sangat menyinggung aku pribadi. Ketika aku mengalami tick, tubuh aku bisa mengeluarkan gerakan beberapa kali. Video yang dia buat juga bisa menyinggung temen-temen yang punya sindrom atau kebutuhan khusus lainnya," kata Sadam dalam unggahannya di TikTok, dikutip Kamis (3/6/2026).
Selain itu, sejumlah warganet juga mengecam sejumlah brand yang melakukan endorsement terhadap konten kreator yang tidak beradab seperti Xander. "Dan yang endors dia juga stres. Kok bisa marketing ke KOL yang suka bikin konten bullying ke temen-temen disabilitas dan dibuat katanya bercandaan. Kayak apaa sih nggak waras," komentar akun @rahmi**.

3 hours ago
1
















































