REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG -- Tiga unit ambulans di Kota Semarang, Jawa Tengah, menerima orderan fiktif yang diduga dilakukan oknum debt collector (DC) atau penagih utang dari perusahaan pinjaman online (pinjol). Dalam kejadian tersebut, petugas ambulans justru diminta untuk menagihkan utang ke salah seorang warga.
Video peristiwa itu viral di media sosial dan salah satunya disebarkan akun Instagram @informasi.semarang. Dalam video yang tersebar, tampak tiga unit ambulans dan satu mobil pikap layanan pengiriman berderet di depan sebuah rumah. Akun tersebut menulis bahwa ambulans dan pikap terkait telah menjadi korban orderan fiktif debt collector.
Salah satu ambulans yang menerima orderan fiktif adalah adalah ambulans swasta Antasena. Admin Ambulans Antasena, Aldy, menjelaskan, peristiwa tersebut bermula pada Selasa (3/2/2026) siang. Hari itu pihaknya menerima pesanan ambulans atas nama Adi Prasetya untuk mengantar pasien kontrol dari Jalan Puspowarno, Semarang Barat, menuju Rumah Sakit Columbia Asia.
Pemesanan tersebut mengirimkan alamat lengkap, identitas pasien, serta lokasi rumah melalui fitur berbagi lokasi. “Sesuai prosedur operasional standar, kami berangkat ke alamat yang diberikan. Namun setelah sampai, rumah dalam keadaan kosong,” ujar Aldy, Rabu (4/2/2026).
Saat tiba di lokasi yang dibagikan, Aldy sudah melihat dua unit ambulans dan satu mobil pikap dari perusahanan layanan pengiriman. Mereka ternyata memperoleh orderan yang sama dengan Aldy.
Tak lama berselang, seorang perempuan datang dan mengaku sebagai orang yang identitasnya dicantumkan sebagai pasien. “Perempuan itu bilang tidak pernah memesan ambulans dan mengaku dalam keadaan sehat. Dia menyebut kejadian ini sebagai penipuan,” ungkap Aldy.
Aldy kemudian menghubungi pemesan ambulans atas nama Adi Prasetya untuk meminta klarifikasi. Namun pemesan justru meminta agar perempuan tersebut segera melunasi utang sebesar Rp14 juta.
“Saya malah disuruh menyampaikan agar utangnya dibayar. Setelah itu nomor saya diblokir,” kata Aldy.
Pengemudi ambulans lainnya menerima perlakuan dan pesan serupa ketika menghubungi pemesan. Namun pihak pemesan mengaku dia berasal dari salah satu perusahaan fintech bernama Indodana.
Aldy mengaku merasa dirugikan akibat kejadian tersebut. “Tidak ada yang mengganti. Kami rugi waktu, bensin, dan tenaga. Ini pengalaman pertama dan semoga tidak terulang lagi,” ujarnya.
Dia pun menyayangkan tindakan tersebut dan meminta para debt collector pinjol tidak menyalahgunakan layanan ambulans untuk penagihan utang. “Ambulans itu untuk keadaan darurat, bukan untuk menagih pinjol. Kalau sedang ada pasien yang benar-benar membutuhkan bagaimana? Jangan jadikan ambulans mainan,” katanya.

2 hours ago
2
















































