Tetap Bersama Al-Quran di Tengah Kesibukan Kuliah dan Aktivitas Dunia

4 hours ago 3

Image Sebi Daily

Agama | 2026-09-20 19:39:27

I

Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi setiap Muslim. Membaca, menghafal, dan mengamalkannya adalah bagian dari usaha mendekatkan diri kepada Allah. Bagi seseorang yang telah menghafal Al-Qur’an, menjaga hafalan membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan keistiqamahan. Hafalan perlu terus diulang agar tetap melekat dan tidak mudah terlupakan.

Sebagai mahasiswa, menjaga hafalan di tengah kesibukan bukanlah hal yang selalu mudah. Kuliah, tugas, organisasi, pekerjaan, pertemanan, dan berbagai aktivitas lainnya sering membuat waktu terasa terbatas. Akibatnya, murajaah terkadang menjadi kegiatan yang ditunda. Padahal, kesibukan dunia seharusnya tidak membuat kita jauh dari Al-Qur’an. Justru, Al-Qur’an dapat menjadi sumber ketenangan dan pengingat di tengah kehidupan yang padat.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah meluruskan niat. Menghafal dan menjaga Al-Qur’an bukan untuk mendapatkan pujian, tetapi sebagai bentuk ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, Al-Qur’an perlu menjadi salah satu prioritas dalam kehidupan. Kita tidak harus menyediakan waktu berjam-jam. Murajaah beberapa ayat secara rutin lebih baik daripada menunggu waktu luang yang belum tentu ada.

Selanjutnya, menentukan waktu khusus untuk murajaah dapat membantu menjaga konsistensi. Waktu tersebut bisa disesuaikan dengan rutinitas, seperti setelah Subuh, setelah Maghrib, atau sebelum tidur. Hafalan juga dapat dibagi menjadi beberapa bagian agar terasa lebih ringan. Target yang sederhana tetapi dilakukan secara konsisten akan lebih mudah dipertahankan.

Selain menyediakan waktu khusus, kita juga dapat memanfaatkan waktu-waktu kecil. Saat menunggu dosen, menunggu kendaraan, perjalanan, atau istirahat di sela kegiatan dapat digunakan untuk mengulang beberapa ayat. Mendengarkan murattal ketika perjalanan juga dapat membantu memperkuat hafalan. Dengan begitu, interaksi dengan Al-Qur’an tidak harus menunggu waktu kosong yang panjang.

Kita juga dapat menjadikan Al-Qur’an bagian dari aktivitas sehari-hari. Misalnya, membaca surah yang telah dihafalkan dalam shalat, membaca Al-Qur’an setelah shalat, atau mendengarkan murattal ketika melakukan aktivitas ringan. Dengan cara ini, Al-Qur’an tidak dianggap sebagai kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah membangun lingkungan yang mendukung. Teman, keluarga, guru, atau komunitas yang dekat dengan Al-Qur’an dapat menjadi sumber motivasi. Kita dapat saling menyimak hafalan, melakukan murajaah bersama, dan saling mengingatkan ketika mulai lalai. Lingkungan yang baik bukan untuk memberikan tekanan, tetapi untuk saling menguatkan dalam proses menjaga hafalan.

Pada akhirnya, menjaga hafalan Al-Qur’an di tengah kesibukan membutuhkan niat, usaha, dan keistiqamahan. Kuliah, organisasi, pekerjaan, dan aktivitas dunia tetap dapat dijalankan tanpa harus meninggalkan Al-Qur’an. Yang terpenting bukan seberapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi seberapa sungguh-sungguh kita mau meluangkan waktu untuk Al-Qur’an.

Dunia akan selalu memiliki kesibukan. Tugas akan terus ada, kegiatan akan terus berjalan, dan tanggung jawab akan terus bertambah. Namun, jangan sampai kesibukan membuat kita lupa menjaga apa yang telah Allah titipkan di dalam hati. Sesibuk apa pun langkah kita mengejar kehidupan dunia, jangan sampai Al-Qur’an kehilangan tempat dalam perjalanan kita. Tetaplah bersamanya, meskipun hanya beberapa ayat setiap hari, karena yang terpenting bukan seberapa cepat kita berjalan, tetapi seberapa istiqamah kita tetap berjalan bersama Al-Qur’an.

Oleh: Ul Ayu Warzukni_Mahasiswa Institut SEBI

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |