REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Stres tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, namun juga bisa memengaruhi kondisi kulit. Para ahli mengungkapkan sejumlah penyakit kulit dapat kambuh atau lebih parah ketika seseorang mengalami tekanan emosional.
Dokter kulit sekaligus praktisi trauma somatik, Keira Barr MD, mengatakan munculnya gejala kulit seperti kemerahan, bersisik, atau jerawat baru dapat memicu respons stres tambahan pada tubuh. “Ketika kulit bersisik (skala), berjerawat, atau kemerahan baru, sistem saraf dapat dikira sebagai ancaman. Hormon stres meningkat, jalur peradangan menjadi aktif, dan kondisi kulit terus mengalami kekambuhan,” kata dia dilansir laman Women's Health, Sabtu (6/6/2026).
Barr menjelaskan otak dan kulit terhubung melalui sistem neuro-imuno-kutaneus-endokrin (NICE), yang memungkinkan sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, dan sistem endokrin saling berkomunikasi. Meski hubungan pasti antara stres psikologis dan sistem tersebut masih terus diteliti, para ilmuwan telah mengetahui bahwa stres memicu pelepasan hormon kortisol dan adrenalin.
Kedua hormon tersebut dapat meningkatkan peradangan serta menutupi lapisan pelindung kulit. Akibatnya, berbagai zat iritan lebih mudah masuk dan memicu munculnya gejala.
Stres juga dapat mengaktifkan sel mast yang melepaskan zat kimia inflamasi seperti histamin, leukotrien, dan prostaglandin, yang dapat menyebabkan pembengkakan, kemerahan, gatal, peradangan, dan peningkatan aliran darah. Berikut tiga penyakit kulit yang dapat memburuk atau memburuk selama masa stres:
1. Urtikaria kronis spontan
Kondisi ini ditandai dengan munculnya biduran berulang tanpa penyebab yang jelas. Berbeda dengan reaksi alergi biasa yang dapat dikaitkan dengan produk atau makanan tertentu, penderita urtikaria kronis sering kali tidak dapat mengidentifikasi pemicu munculnya bentol merah tersebut.
Ahli alergi dan imunologi Jonathan A Bernstein menjelaskan kondisi ini ditandai dengan rasa gatal, pembengkakan, dan bentol yang berlangsung setidaknya selama enam minggu. Urtikaria kronis paling sering terjadi pada perempuan berusia 20 hingga 40 tahun.
Gejalanya kerap tidak disebutkan. Bentol dapat muncul selama 24 jam, kemudian menghilang dan muncul kembali di area tubuh yang berbeda. Kekhawatiran terhadap gejala yang terus berulang dan proses pencarian diagnosis yang tepat membuat banyak penderita mengalami tingkat stres sedang hingga berat.
“Stres sebetulnya bukan penyebab langsung urtikaria kronis. Namun, berbagai perubahan fisik yang terjadi saat seseorang mengalami stres, seperti peningkatan suhu tubuh, peningkatan kadar hormon kortisol, serta produksi neuropeptida selama stres kronis, dapat mengaktifkan sel mast dan menghentikan gejala,” kata Bernstein.

5 hours ago
3

















































