REPUBLIKA.CO.ID, SINGAPURA — Singapura membuka ladang pertanian dalam ruangan vertikal berbasis kecerdasan artifisial terbesar di dunia di tengah tekanan ketahanan pangan dan menyusutnya sektor pertanian lokal. Fasilitas bernama Greenphyto ini beroperasi penuh dengan AI dan robot untuk menekan biaya serta menjaga kualitas panen.
Peresmian Greenphyto dilakukan Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam di Jurong West, Rabu (7/1/2026). Selada dan kailan hidroponik Greenphyto telah dipasarkan sejak 2025 di 95 supermarket Singapura. Satu paket kailan 200 gram dijual sekitar 3,95 dolar Singapura, sementara selada Mambo sekitar 3,20 dolar Singapura.
Greenphyto juga memproduksi baby spinach, arugula, dan sayuran daun lainnya. Bangunan yang saat ini lima lantai direncanakan bertambah hingga 14 lantai.
Nilai investasinya mencapai 80 juta dolar Singapura dengan kapasitas penuh 2.000 ton sayuran per tahun. Produksi saat ini masih sekitar 200 ton per tahun.
Dikutip dari The Straits Times, Kamis (8/1/2026), pengembangan pertanian ini didukung 69 hak paten. Greenphyto hadir ketika pertanian Singapura mengalami kemunduran dengan sejumlah perusahaan menutup operasionalnya.
Pada November lalu, Growy Singapore masuk proses likuidasi, VertiVegies membatalkan rencana pertanian vertikal pada 2022, dan I.F.F.I menutup fasilitas produksi seluas 38 ribu meter persegi. Tantangan utamanya mencakup modal besar, gangguan rantai pasok saat pandemi, serta melemahnya kepercayaan investor.
Pada akhir 2025, pemerintah Singapura juga membatalkan target “30 by 30” dan menggantinya dengan sasaran produksi serat dan protein pada 2035. Situasi ini justru menguatkan tekad pendiri Greenphyto Susan Chong untuk mengambil pendekatan berbeda.
“(Penutupan ladang pertanian) membuat saya semakin bertekad mewujudkan ini dan melakukannya dengan cara yang berbeda,” kata Chong. Ia memastikan teknologi digunakan untuk menekan biaya dan meningkatkan kualitas agar produk lokal bersaing dengan impor.
Tantangan terbesar pertanian dalam ruangan adalah biaya energi. Riset Greenphyto berhasil menurunkan konsumsi energi hingga 30 persen melalui lampu LED hemat energi dengan pencahayaan yang disesuaikan fase tumbuh.
Untuk mengurangi limbah, produksi dilakukan berbasis pesanan dari ritel seperti FairPrice, Sheng Siong, Meidi-Ya, dan Far East Flora. “Dalam bisnis, tidak ada konsumen yang memberi jaminan, tapi kualitas dan relevansi produk yang membuatnya berkelanjutan,” ujar Chong.
Greenphyto mengoperasikan lima ruang tanpa pekerja dengan dua menara hidroponik sepanjang 118 meter dan tinggi 23,3 meter per ruang. Robot menyerupai derek memantau tanaman, memindahkan baki semai, dan menata rak secara otomatis.
Desain menara terinspirasi sistem pergudangan logistik dengan lebih dari 500 rak berlampu LED. Setiap baki tanaman menerima formula nutrisi khusus sesuai tahap pertumbuhan.
Perusahaan juga membuka kantor penjualan di Malaysia untuk ekspor dan kantor di Belanda untuk memasarkan sistem pertaniannya. Keunggulan lain terletak pada perangkat lunak AI yang memantau kesehatan tanaman secara real time dan memprediksi hasil panen.
Setiap hari, pegawai menerima laporan AI tentang kondisi tanaman dan rekomendasi tindakan. Chief Digital Officer Greenphyto Liow Wei Quan mengatakan, sistem ini membantu manajer menentukan waktu panen atau penyesuaian parameter ruang tanam.
Pengembangan AI didukung Infocomm Media Development Authority melalui Digital Leaders Programme dan pendanaan Agri-food Cluster Transformation Fund dari Singapore Food Agency. Ke depan, Greenphyto menyiapkan spin-off teknologi Arber.ai untuk konsultasi digital lintas sektor.
Menteri Negara Senior Keberlanjutan dan Lingkungan Zaqy Mohamad menilai strategi efisiensi energi dan otomatisasi menjadi nilai tambah. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga harga agar tetap kompetitif seiring skala bisnis yang membesar.

23 hours ago
5















































