loading...
Pangeran Diponegoro dan pasukannya melakukan serangan besar-besaran ke pusat kota Yogyakarta. Foto/SindoNews
SEMARANG - Pangeran Diponegoro dan pasukannya melakukan serangan besar-besaran ke pusat kota Yogyakarta. Pasukan Pangeran Diponegoro melakukan serangan umum ke Yogyakarta dengan kekuatan tiga kolone atau sekitar 6.000 pasukan, dibagi dalam tiga sektor.
Kolone pertama dipimpin oleh Pangeran Abu Bakar, saudara Diponegoro, putra Sultan Hamengkubuwono III yang bergerak dari arah timur menyerbu Dalem Pakualaman, menghancurkan jembatan Kali Code, membakar perkampungan orang Cina dan Eropa, serta menghancurkan gerbang-gerbang pungutan.
Kolone kedua dipimpin oleh Pangeran Adinegoro yang berhasil menguasai jalan penghubung Magelang-Yogyakarta-Surakarta. Kolone ketiga dipimpin oleh Pangeran Blitar, yang bergerak dari arah selatan menguasai jalan raya Bantul dan berusaha merebut keraton.
Dikutip dari buku "Sejarah Nasional Indonesia IV : Kemunculan Penjajahan di Indonesia" Kamis (13/2/2025) diceritakan, rumah-rumah bangsawan yang dianggap lawan dirusak, dijarah, kemudian dibakar.
Sepuluh bupati ditangkap antara lain, Tumenggung Mertoloyo, Tumenggung Wiryokusumo, Tumenggung Notoyudo, Tumenggung Sumorejo, Tumenggung Danusumo, dan dua orang terluka, yaitu Tumenggung Sindunegoro dan Ronodiningrat. Yogyakarta sudah menjadi hutan api, wana bongbongan siang dan malam.
Peristiwa serangan pasukan Diponegoro mengejutkan tentara dan pemerintah Hindia Belanda. Para pembesar Kesultanan dan pemerintah Hindia Belanda panik luar biasa, mengungsi ke benteng Vredeburg.
Garnisun Yogyakarta yang hanya berkekuatan 200 orang, tidak mungkin menghadapi pasukan Diponegoro yang jumlahnya jauh lebih besar. Sultan Hamengkubuwono V juga diungsikan ke Benteng Vredeburg dan dikawal secara ketat.
(cip)
Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Baca Berita Terkait Lainnya