Psikolog: Libatkan Anak Persiapan Sekolah untuk Atasi Post Holiday Blues

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Psikolog klinis anak dan remaja lulusan Universitas Padjadjaran, Michelle Brigitta Shanny, menyarankan orang tua melibatkan anak dalam persiapan hari pertama sekolah sebagai salah satu cara mengurangi perasaan post holiday blues setelah masa liburan.

Post holiday blues merupakan kondisi psikologis yang umum terjadi setelah masa libur panjang, ditandai dengan perasaan enggan kembali ke rutinitas, penurunan semangat, hingga perubahan suasana hati. Kondisi ini tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang terbiasa dengan kebebasan selama liburan.

Pada anak, post holiday blues biasanya muncul karena perubahan mendadak dari pola hidup santai ke jadwal yang lebih terstruktur. Transisi ini dapat memicu rasa cemas ringan, kelelahan emosional, hingga resistensi terhadap aktivitas sekolah. Namun, kondisi ini bersifat sementara dan dapat diatasi dengan pendampingan yang tepat dari orang tua.

“Orang tua kalau bisa mulai ajak ngobrol anak hal-hal apa yang dia kangen dari sekolah, diingatkan lagi kegiatan sekolah seperti teman, guru, atau aktivitas kesukaan anak. Selain itu, anak juga bisa dilibatkan dalam persiapan, seperti menyiapkan tas, alat tulis, dan buku,” kata Michelle kepada ANTARA, Selasa.

Menurut dia, gejala post holiday blues pada anak dapat terlihat dari menurunnya semangat untuk kembali ke sekolah, mencari alasan untuk tidak masuk, hingga perubahan emosi seperti menjadi lebih sensitif, sedih, atau mudah marah.

Meski demikian, Michelle menegaskan orang tua tidak perlu terlalu khawatir karena kondisi tersebut dapat diatasi dengan mengatur ulang jadwal harian secara bertahap.

Ia menyarankan agar orang tua mulai mengembalikan ritme kebiasaan anak sejak satu pekan sebelum masuk sekolah. Penyesuaian ini dilakukan secara perlahan agar anak tidak merasa terkejut saat kembali ke rutinitas.

Selain itu, orang tua juga perlu membiasakan anak untuk tidur lebih awal serta mengurangi waktu penggunaan gawai yang selama liburan cenderung lebih longgar.

“Bisa dikembalikan secara bertahap supaya anak tidak kaget. Orang tua juga perlu memvalidasi emosi anak, misalnya ketika anak menolak sekolah, bisa disampaikan bahwa wajar merasa kangen liburan, tetapi tetap harus kembali menjalani tanggung jawab,” ujarnya.

Untuk membangun kembali semangat anak, orang tua juga dapat membuat kesepakatan sederhana, seperti menjadwalkan waktu bersama di akhir pekan.

Dengan pendekatan tersebut, anak diharapkan tetap merasa memiliki momen kebersamaan dengan orang tua, sekaligus mampu menjalani aktivitas sekolah dengan lebih siap dan positif.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |