Politik Global 2026 di Era Deterensi dan Kecerdasan Buatan

1 day ago 8

Oleh : Prof Ema Utami (Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Amikom Yogyakarta)

REPUBLIKA.CO.ID, Tahun baru 2026 diawali dengan berbagai kejadian internasional yang membuat suhu panas peta perpolitikan antar negara. Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh tentara Amerika Serikat tak pelak menimbulkan kecaman dari berbagai negara. Konflik dua negara di kawasan benua Amerika tersebut memang telah berakar lama. Salah satu penyebab utama yang sering disebut oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump adalah terkait dengan pengelolaan sumber daya alam, khususnya minyak bumi di Venezuela. Pada 3 Januari 2026, pasukan khusus Amerika Serikat menjalankan operasi militer bersandi Operation Absolute Resolve di Caracas yang berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian dibawa ke New York.

Krisis yang semula merupakan hubungan tegang antara dua pemerintahan berubah menjadi konfrontasi global yang memperlihatkan betapa rapuhnya tatanan internasional saat kekuatan besar bertindak sepihak, dan bagaimana sumber daya strategis seperti minyak bumi dapat menjadi pemicu konflik skala besar yang mengubah arah politik sebuah kawasan. Tampak jelas bahwa kepemilikan kekuatan militer dan teknologi suatu negara serta arah kebijakan pemimpinnya berpengaruh besar pada pola relasi yang timpang antar negara. Negara dengan superioritas militer dan teknologi canggih, termasuk penguasaan sistem persenjataan berbasis data dan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence (AI)), kerap merasa memiliki legitimasi moral atau bahkan hukum untuk bertindak di luar mekanisme multilateral yang telah disepakati bersama.

Hukum internasional sering kali tereduksi menjadi sekadar teks normatif yang mudah dikesampingkan ketika berhadapan dengan kepentingan geopolitik dan ekonomi berskala besar. Peristiwa awal tahun 2026 ini tentu semakin meneguhkan bagi negara lain untuk mampu memiliki kekuatan deteren sendiri, misalnya Korea Utara dan Rusia dengan program nuklirnya. Kepemilikan senjata pemusnah massal, dalam perspektif ini, tidak lagi semata dipahami sebagai ancaman, melainkan sebagai alat tawar politik dan jaminan kelangsungan rezim. Logika deterensi menjadi semakin relevan ketika dunia menyaksikan bahwa negara tanpa kekuatan militer yang memadai justru lebih mudah ditekan, diintervensi, bahkan dipermalukan di panggung internasional. Dalam konteks ini, deterensi tidak hanya berbentuk senjata konvensional dan nuklir, tetapi juga penguasaan teknologi strategis, mulai dari sistem intelijen digital hingga AI yang mampu memengaruhi arah konflik dan opini global.

Penguasaan teknologi seperti AI yang saat ini mengalami peningkatan kemampuan luar biasa tidak dimungkiri juga dapat digunakan untuk kepentingan strategis negara, baik dalam konteks ekonomi, keamanan, maupun peperangan modern. AI telah menjelma menjadi instrumen kekuasaan baru khususnya dalam bidang pertahanan keamanan dan politik. Negara yang mampu menguasai, mengendalikan, dan mengarahkan perkembangan AI akan memiliki keunggulan signifikan dalam pengambilan keputusan, penguasaan informasi, hingga manipulasi opini publik lintas batas negara.

Operasi pengaruh melalui media sosial, serangan siber terhadap infrastruktur vital, serta penggunaan sistem analitik berbasis AI untuk membaca dan mengarahkan perilaku publik menjadi bagian tak terpisahkan dari konflik kontemporer. Kedaulatan negara pun menghadapi tantangan baru, ketika batas teritorial menjadi kabur di ruang digital yang sulit diawasi dan diatur oleh hukum internasional yang ada. Jika tren ini terus berlanjut maka tidak pelak diperlukan usaha serius dari setiap negara untuk menguasai dua sektor strategis yang sangat menentukan. Pertama adalah penelitian dan pengembangan AI beserta ekosistem digitalnya, yang mencakup sains data, keamanan siber, dan teknologi informasi strategis. Dan yang kedua adalah penguasaan kemampuan deterensi strategis, termasuk di dalamnya teknologi persenjataan tingkat lanjut hingga senjata nuklir. Kini deterensi tidak lagi dipahami hanya semata sebagai ancaman agresif, melainkan sebagai instrumen pencegah agar suatu negara tidak mudah ditekan atau diperlakukan sewenang-wenang.

Namun demikian, penguasaan teknologi AI dan kemampuan deterensi strategis hanya akan menjadi pedang bermata dua tanpa kepemimpinan yang bijaksana. Diperlukan pemimpin yang tidak hanya memahami dinamika geopolitik dan kemajuan teknologi, tetapi juga memiliki kompas moral dan visi jangka panjang. Alquran memberikan landasan nilai yang kuat dalam menghadapi realitas tersebut, seperti dalam Surat Al-Anfāl ayat 60, “Persiapkanlah untuk (menghadapi) mereka apa yang kamu mampu, berupa kekuatan (yang kamu miliki) dan pasukan berkuda. Dengannya (persiapan itu) kamu membuat gentar musuh Allah, musuh kamu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, (tetapi) Allah mengetahuinya. Apa pun yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas secara penuh kepadamu, sedangkan kamu tidak akan dizalimi.” Wallāhu a‘lam.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |