REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dalam tradisi tasawuf, doa bukanlah puncak dari penghambaan. Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menegaskan bahwa adab kepada Allah SWT justru menempati posisi yang lebih tinggi daripada sekadar permohonan doa yang dilafalkan dengan lisan.
Sebagai hamba Allah SWT, menurut Syekh Ibnu Athaillah, harus menjaga adab kepada Allah SWT.
مَا الشَّأْنُ وُجُودُ الطَّلَبِ، وَإِنَّمَا الشَّأْنُ أَنْ تُرْزَقَ حُسْنَ الْأَدَبِ
"Yang penting bukanlah sekadar meminta (berdoa kepada Allah), akan tetapi yang paling penting adalah kamu dikaruniai adab yang baik (kepada Allah)." (Syekh Ibnu Athaillah, Al-Hikam)
Ustaz Salim Bahreisy dalam buku Terjemahan Al-Hikam menambah penjelasan Syekh Ibnu Athaillah. Ia menjelaskan bahwa maksudnya adalah menerima yang diberikan oleh Allah SWT tanpa merasa kurang dan kecil.
Sebagaimana kebiasaan tuan atau majikan yang baik akan memenuhi semua kebutuhan hambanya. Demikian juga kewajiban kita sebagai hamba Allah, serahkan saja kepada kebijaksanaan dan aturan Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Adil.
Dalam terjemahan Al-Hikam lainnya dijelaskan bahwa ibadah memang penting. Akan tetapi yang lebih penting lagi adalah memiliki adab dalam beribadah kepada Allah SWT. Jika kamu beribadah tanpa ada adab sama sekali, maka nilai yang kamu dapatkan adalah nol besar.
Kamu mungkin terbebas dari kewajiban yang dibebankan Allah SWT kepada kamu. Akan tetapi kamu tidak berhak mendapatkan pahala, bahkan bisa jadi amalan yang kamu lakukan sia-sia belaka.
Jagalah adab kepada Allah SWT dalam hal apapun yang kamu lakukan. Bukan cuma adab secara lahir, tetapi juga adab dalam hal batin.

12 hours ago
5














































