REPUBLIKA.CO.ID, PEMALANG -- Proses pencarian terhadap Syafiq Ridhan Ali Razan (18 tahun), pendaki asal Magelang, Jawa Tengah, yang hilang di Gunung Slamet, telah resmi dihentikan pada Rabu (7/1/2026). Meski masa pencarian sudah diperpanjang hingga sembilan hari, Syafiq tetap tak ditemukan.
"Untuk pencarian saudara Syafiq Ali sudah ditutup kemarin. Jadi sekarang dialihkan ke pemantauan," ungkap staf operasi Kantor SAR Semarang, Handika Hengki, ketika dihubungi, Kamis (8/1/2026).
Handika mengatakan, selama proses pencarian, dia melakukan monitoring di Pos Dipajaya yang menjadi posko induk pengendali operasi SAR. "Untuk proses pencarian (Syafiq) itu sembilan hari. Seharusnya tujuh hari, tapi diperpanjang dua hari," ucapnya.
Dia menerangkan, dalam proses pencarian, sekitar 120 personel tim SAR gabungan, termasuk TNI-Polri, melakukan penyisirian di luar jalur pendakian. Mereka dibagi menjadi lima regu.
"Jadi macam-macam, ada yang dari Pos 5 ke atas, Pos 5 sampai Pos 4, Pos 4 sampai Pos 2, dan Pos 2 ke Pos 1. Jadi setengah dari lingkar Gunung Slamet itu sudah disapu semuanya oleh teman-teman," kata Handika.
Handika menambahkan, selama sembilan hari, seluruh personel di lapangan mencari jejak kaki atau tanda-tanda lain keberadaan Syafiq, termasuk kemungkinan barangnya yang tertinggal. "Tapi selama sembilan hari ini melakukan pencarian, tidak ditemukan jejak kaki maupun barang milik korban atau survivor ini," ucapnya.
Menurutnya, selama proses pencarian, para personel SAR di lapangan menghadapi beberapa tantangan, salah satunya adalah cuaca. Hal itu karena cuaca di Gunung Slamet kerap berubah-ubah. Bahkan sempat terjadi hujan badai di area puncak.
Handika menerangkan, Syafiq memulai pendakian di Gunung Slamet pada Sabtu (27/12/2025) malam. Dia mendaki bersama seorang temannya, yakni Himawan Haidar Bahran via Pos Dipajaya, Desa Clekatakan, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Rencananya mereka melakukan pendakian tektok dan tiba kembali di Pos Dipajaya pada Ahad (28/12/2025) sore.
Namun Syafiq dan Himawan justru baru tiba di puncak Gunung Slamet pada Ahad sore. Mereka akhirnya memutuskan untuk bermalam dan turun dari puncak pada Senin (29/12/2025).
Dalam perjalanan turun, saat masih di sekitaran area puncak, Himawan mengalami cedera pada kakinya. Syafiq kemudian memutuskan meninggalkan Himawan dengan maksud mencari bantuan. Meski cukup lama Himawan menunggu, Syafiq tak kunjung kembali.
"Himawan akhirnya memutuskan untuk naik lagi dan stay dan bermalam di Pos 9. Pada Selasa (30/12/2025) pagi, Himawan dievakuasi oleh teman-teman basecamp Dipajaya," ungkap Handika.
Handika mengungkapkan, karena awalnya hanya hendak tektok, peralatan dan logistik yang dibawa Syafiq dan Himawan terbatas. "Jadi tidak membawa logistik seperti pendakian umumnya," ujarnya.
Dia menambahkan, meski operasi SAR telah dihentika, kelompok relawan yang masih ingin membantu proses pencarian Syafiq tetap dipersilakan. "Jika ada penemuan, misalnya butuh evakuasi yang sifatnya penanganan khusus, Basarnas juga bisa diberangkatkan," kata Handika.

20 hours ago
6















































