Pakar Sebut 5 Pengeluaran yang Bikin Kelas Menengah Susah Kaya

2 weeks ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar keuangan Dave Ramsey telah puluhan tahun mengajarkan cara membangun kekayaan, dan salah satu pesannya yang paling kuat justru berfokus pada apa yang sebaiknya tidak dibeli. Ketika banyak penasihat keuangan membahas strategi investasi yang rumit, Ramsey memilih pendekatan berbeda.

Ia menilai bahwa kelas menengah bukan tidak kaya karena kurang pendapatan, tetapi karena keputusan konsumsi tertentu yang menghambat kemampuan mereka membangun kekayaan. Dilansir New Trader U, berikut ini lima jenis pembelian yang menurut Ramsey membuat keluarga kelas menengah hidup dari gaji ke gaji.

1. Mobil Baru dengan Skema Kredit

Ramsey menganggap cicilan mobil sebagai salah satu hambatan terbesar dalam membangun kekayaan. Mobil baru kehilangan sekitar 60 persen nilai dalam lima tahun pertama, menjadikannya “investasi” yang buruk. Meski begitu, jutaan orang mengikat diri dalam kredit 5 hingga 7 tahun demi membawa pulang mobil baru.

Menurut Ramsey, mobil adalah aset yang menyusut, dan membelinya dengan kredit adalah bunuh diri finansial. Bunga yang dibayar hanya menambah kerugian.

Solusinya: beli mobil bekas yang andal secara tunai. Mungkin tidak terlihat mewah, tetapi bisa menghemat untuk dapat dialihkan ke pelunasan utang atau investasi.

Masalah utamanya, kata Ramsey, adalah masyarakat terbiasa bertanya “berapa cicilannya per bulan?” alih-alih “berapa harga mobilnya sebenarnya?”

2. Rumah Terlalu Mahal

Rumah adalah pos pengeluaran terbesar keluarga kelas menengah. Banyak orang membeli rumah melebihi kemampuan karena bank menyetujui plafon kredit tertentu, yang sebenarnya tidak mencerminkan kenyamanan finansial.

Ramsey merekomendasikan agar pembayaran rumah, termasuk pokok, bunga, pajak, dan asuransi, tidak melebihi 25% dari pendapatan bersih, dan menggunakan kredit fixed 15 tahun. Ini jauh lebih konservatif dibanding standar bank.

Banyak keluarga akhirnya menjadi “house poor”: rumah bagus, tetapi tidak punya ruang untuk menabung, berinvestasi, atau menghadapi keadaan darurat. Menurut Ramsey, kekayaan tidak dibangun dari rumah yang ditinggali, tetapi dari kemampuan berinvestasi saat tinggal di rumah yang sesuai kemampuan.

3. Kartu Kredit dan Utang Konsumtif

Kartu kredit dan pembiayaan konsumtif, menurut Ramsey, adalah alat yang membuat kelas menengah tetap miskin. Membiayai furnitur, gadget, liburan, atau kebutuhan harian dengan kartu kredit berarti membayar uang masa depan untuk konsumsi masa lalu.

Bunga kartu kredit, yang bisa mencapai 18–25%, membuat keluarga membayar jauh lebih mahal untuk barang yang nilainya sudah turun atau habis dipakai.

Prinsip Ramsey sederhana: Jika kamu tidak bisa membeli secara tunai, berarti kamu tidak mampu membelinya. Alasan seperti “membangun skor kredit” atau “mengumpulkan poin rewards” tidak sebanding dengan risiko normalisasi utang.

Utang konsumtif juga menciptakan stres: kekhawatiran bayar minimum, menunda tabungan darurat, dan tidak bisa berinvestasi.

4. Pinjaman Mahasiswa

Ramsey semakin vokal soal pinjaman pendidikan sebagai “pembunuh kekayaan” kelas menengah. Ia menilai bahwa mendorong remaja 18 tahun mengambil pinjaman puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk kuliah adalah keputusan finansial yang sangat merugikan.

Masalahnya bukan pendidikan, Ramsey justru menghargai pendidikan. Masalahnya adalah utang besar untuk membayarnya.

Ia menyarankan alternatif yakni kuliah di universitas negeri yang lebih terjangkau, bekerja sambil kuliah, mencari beasiswa, memilih jurusan dengan prospek karier yang sesuai biaya kuliah.

Utang mahasiswa membuat lulusan muda sulit menabung untuk rumah, investasi pensiun, atau memulai bisnis. Ini karena mereka harus membayar cicilan “seperti sewa kedua”.

5. Gaya Hidup Meningkat dan Mengejar Penampilan

Pengeluaran kelima bukan satu item tertentu, tetapi pola hidup: inflasi gaya hidup atau terkenal dengan istilah “keeping up with the Joneses”. Ini mencakup kebiasaan seperti sering upgrade ponsel, membeli pakaian bermerek, liburan mahal, makan di luar berlebihan, berlangganan layanan premium, dan lainnya.

Pendapatan meningkat, tetapi pengeluaran ikut naik, atau bahkan lebih besar. Inilah jebakan kelas menengah, yakni menghasilkan cukup besar, tetapi menghabiskannya semua.

"Orang membeli barang yang tidak mereka butuhkan, dengan uang yang tidak mereka punya, untuk mengesankan orang yang tidak mereka suka," katanya. Solusinya adalah pengeluaran yang disengaja dan gaya hidup di bawah kemampuan.

Kesimpulannya, kelima jenis pembelian ini memiliki satu benang merah yakni semuanya membuat orang menghabiskan uang yang tidak mereka miliki, atau uang yang seharusnya dapat digunakan untuk membangun kekayaan.

Alternatif yang diajukan Ramsey adalah hidup di bawah kemampuan, bayar tunai, investasikan selisihnya. Mungkin berarti sementara waktu mengendarai mobil lama atau tinggal di rumah sederhana, tetapi justru itu yang membangun kekayaan jangka panjang.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |