REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persoalan sampah di Indonesia dinilai telah mencapai titik yang sangat mengkhawatirkan dan menjadi tantangan besar bagi keberlangsungan lingkungan hidup kita. Berdasarkan data terbaru dari Sistem Pengelolaan Sampah Nasional (SPSN), hingga pertengahan April 2025, angka timbulan sampah di tanah air menyentuh angka fantastis, yakni 33,621 juta ton per tahun.
Angka ini bukan sekadar statistik di atas kertas, melainkan cerminan dari kompleksitas masalah lingkungan yang jika tidak segera ditangani akan meledak menjadi bencana ekologis yang lebih besar bagi generasi mendatang. Di tengah karut-marut pengelolaan limbah tersebut, sebuah solusi sederhana namun sangat fundamental kembali digaungkan, yakni pengelolaan sampah yang dimulai dari lingkup terkecil atau unit rumah tangga.
Ketua Tim Kampanye Sosial dan Ekonomi Greenpeace Indonesia, Muharram Atha Rasyadi, mengatakan pemilahan sampah dari rumah merupakan salah satu cara paling efektif untuk mengurangi krisis sampah di Indonesia, khususnya dalam menekan beban berat yang ditanggung oleh tempat pembuangan akhir (TPA). Menurutnya, sebagian besar komposisi sampah rumah tangga di Indonesia sebenarnya adalah sampah organik. Jika jenis sampah ini tidak lagi dikirim ke TPA, lebih dari setengah persoalan sampah nasional sebenarnya sudah dapat diselesaikan dengan sangat efisien.
Muharram menjelaskan urgensi perubahan pola pikir masyarakat ini. "Memilah sampah dari rumah sangat membantu mengatasi masalah sampah karena mengurangi volume sampah ke TPA. Mayoritas sampah kita adalah organik. Jika kita bisa mulai tidak mengirim sampah jenis ini ke TPA, setengah lebih masalah sampah bisa selesai," kata Muharram saat dihubungi Republika, Senin (5/1/2026).
Ia mengajak masyarakat untuk mulai memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah, di mana sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik yang masih bernilai dapat disetor ke bank sampah. "Dengan cara ini, kita bisa meminimalkan jumlah sampah yang akhirnya dikirim ke TPA," kata dia.
Muharram menilai skema kumpul-angkut-buang yang selama ini menjadi pendekatan utama pemerintah tidaklah efektif karena hanya memindahkan masalah tanpa solusi pengelolaan yang memadai. Bahkan, teknologi canggih seperti Pembangkit Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) pun dinilai tidak menyentuh akar persoalan karena hanya fokus di bagian hilir.
"Solusi ini tidak menyelesaikan masalah sampah tercampur karena hanya fokus di hilir, serta menimbulkan masalah baru, mulai dari biaya yang mahal, tidak efisien sebagai penghasil energi, hingga risiko emisi, polusi, dan racun yang dilepaskan ke udara," ujarnya.
Menurutnya, pemilahan sampah tidak boleh lagi menjadi pilihan opsional. "Pemilahan sampah ini harus menjadi skema default dan solusi utama. Tanpa itu, dampaknya tidak akan signifikan," kata Muharram.
sumber : Pusat Data Republika

1 day ago
3















































