Mengenal Last Meeting Theory: Kenapa Kita Tak Sadar Saat Pertemuan Terakhir Sedang Terjadi?

1 week ago 9

CANTIKA.COM, Jakarta

Pernahkah kamu bertemu seseorang dan merasa ada getaran aneh, seolah itu akan menjadi pertemuan terakhir, padahal kalian tetap tersenyum seperti biasa? Fenomena ini tengah ramai dibicarakan di media sosial dan dikenal sebagai Last Meeting Theory. Teori ini bukan sekadar tren TikTok; bagi banyak orang, ini menjadi cara memahami perpisahan dan belajar move on dengan elegan.


Apa Itu Last Meeting Theory?

Last Meeting Theory atau teori pertemuan terakhir menyatakan bahwa setiap orang dalam hidup kita memiliki “peran” tertentu. Setelah misi itu selesai — entah untuk mengajarkan sesuatu, memberi pengalaman, atau sekadar menemani sebagian perjalanan hidup — alam semesta “mengatur” agar pertemuan tak lagi terjadi secara kebetulan.

Momen ini bisa muncul tanpa tanda, sekadar ngobrol santai di kafe, atau bertukar pesan terakhir. Setelah itu, meski tinggal di lingkungan yang sama atau punya teman yang sama, kalian jarang atau bahkan tidak pernah bersinggungan lagi.

Contoh: Dua sahabat yang dulu selalu hangout tiap minggu, tibatiba tidak pernah bertemu lagi meski tinggal di kota yang sama. Tidak ada drama, tidak ada pertengkaran, hanya rasa “ini mungkin terakhir kalinya kita bertemu”.


Mengapa Last Meeting Theory Menarik?

Bagi generasi millennial dan GenZ, fenomena ini terasa sangat relatable:

  1. Closure tanpa adegan dramatis – Banyak orang berpisah tanpa kata-kata jelas. Teori ini memberi “narasi” untuk menerima bahwa hubungan itu sudah selesai.

  2. Memberi makna pada perpisahan – Kita cenderung mencari alasan dan pola. Last Meeting Theory membantu menafsirkan perpisahan sebagai bagian dari perjalanan hidup, bukan kegagalan.

  3. Konten relatable – Fenomena ini populer di TikTok, Instagram, dan Twitter karena mudah dihubungkan dengan pengalaman pribadi: siapa yang tiba-tiba menghilang dari hidupmu, tanpa penjelasan.


Tanda-Tanda Kamu Sedang Mengalami Last Meeting

Berikut beberapa ciri yang bisa menjadi petunjuk:

  1. Pertemuan terasa biasa, tapi menjadi yang terakhir
    Kadang momen terakhir terlihat normal: ngopi bareng, ngobrol, atau tertawa bersama. Tapi setelahnya, tidak ada lagi pertemuan.

  2. Tidak ada perpisahan dramatis
    Tidak ada kata-kata “sampai jumpa” yang emosional. Hanya rasa yang memberitahu bahwa perjalanan itu telah selesai.

  3. Jalan hidup mulai berpisah
    Rutinitas, prioritas, dan lingkaran sosial mulai berbeda. Tidak ada lagi “benturan” yang membuat kalian bertemu.

  4. Ada pelajaran atau pertumbuhan yang didapat
    Hubungan itu tidak sia-sia. Masing-masing mendapat pengalaman, belajar batasan, dan mengerti diri sendiri lebih baik.

  5. Rasa nostalgia muncul, tapi bukan rindu untuk kembali
    Perasaan ini muncul sebagai bentuk penghargaan terhadap momen, bukan keinginan untuk mengulanginya.


Cara Menghadapi “Last Meeting” dengan Elegan

1. Ubah Perspektif

Alihkan fokus dari kehilangan menjadi pelajaran. Tanyakan pada diri sendiri: Apa yang saya pelajari dari hubungan ini?

2. Hadir Sepenuhnya

Momen terakhir mungkin datang tanpa disadari. Dengan hadir sepenuh hati, kamu bisa mengapresiasi interaksi itu sepenuhnya.

3. Lepaskan dengan Cinta

Melepaskan bukan berarti lupa. Ini berarti menerima bahwa bab itu selesai dan bersyukur atas pengalaman yang diperoleh.

4. Buka Ruang untuk Babak Baru

Setelah satu hubungan selesai, otomatis ada ruang untuk pertumbuhan dan relasi baru yang lebih sesuai dengan versi dirimu yang sekarang.

Catatan Penting

  • Last Meeting Theory bukan hukum ilmiah. Fenomena ini lebih berupa narasi populer daripada fakta mutlak.

  • Bisa jadi pertemuan yang dianggap terakhir bukan benar-benar final; faktor lingkungan, jarak, atau prioritas hidup juga bisa memengaruhi.

  • Gunakan teori ini sebagai alat refleksi, bukan alasan untuk berhenti berkomunikasi jika memang ingin menjalin hubungan kembali.

Last Meeting Theory mengajarkan kita untuk melihat hubungan sebagai perjalanan yang memiliki awal dan akhir. Momen terakhir mungkin datang tanpa tanda, tetapi itu bukan akhir dunia, melainkan kesempatan untuk belajar, menghargai, dan membuka babak baru. Menghadapi setiap “last meeting” dengan kesadaran, syukur, dan elegan adalah cara kita merayakan hidup dan relasi yang pernah ada.

Jadi, jika suatu hari kamu merasa sebuah pertemuan adalah yang terakhir, ingatlah: ini bukan tentang kehilangan, tapi tentang pertumbuhan.

Pilihan Editor: Jangan Selalu Bilang Iya, Ini 5 Tips Menetapkan Batasan dalam Hubungan Tanpa Rasa Bersalah

READ UNWRITTEN | YOURTANGO | THE MINDS JOURNAL

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |