Mampukah Militer Eropa Lawan AS untuk Bela Greenland

1 day ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, BRUSSELS – Ancaman Amerika Serikat (AS) mencaplok Greenland dengan kekuatan militer memunculkan potensi sengketa di antara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Bisakah negara-negara Eropa secara militer menghadapi AS jika skenario tersebut terjadi?

Dalam sebuah laporan yang ditulis oleh koresponden pertahanannya, Ellie Cook, Newsweek menyatakan bahwa pernyataan Trump mengenai Greenland menyoroti juga ketergantungan NATO yang besar pada kekuatan militer Amerika. Sementara gagasan bahwa Amerika Serikat, negara paling berpengaruh dalam aliansi tersebut, akan berbalik melawan negara anggota lainnya dapat berarti berakhirnya NATO.

Ketika membandingkan kemampuan militer, Newsweek mencatat bahwa Amerika Serikat jauh melampaui negara-negara aliansi lainnya dalam banyak bidang. Dalam kekuatan udara saja, Angkatan Udara AS memiliki lebih dari 1.400 pesawat tempur operasional, jauh melebihi gabungan kemampuan udara negara-negara besar Eropa seperti Inggris, Prancis, dan Turki.

Dalam hal kekuatan darat, Angkatan Darat AS memiliki sekitar setengah juta tentara dan ribuan tank serta pengangkut personel lapis baja, menjadikannya kekuatan darat terbesar di NATO tanpa diragukan lagi.

Kesenjangan ini juga meluas ke angkatan darat, yang mana Angkatan Darat AS memiliki keunggulan karena memiliki lebih dari 2.600 tank Abrams, 10.000 pengangkut personel lapis baja, dan ribuan kendaraan lapis baja lainnya. Sementara angkatan bersenjata Eropa yang sudah lama berdiri – seperti Angkatan Darat Inggris – mengalami penurunan bersejarah dalam hal jumlah pasukan dan peralatan.

Di bidang maritim, Angkatan Laut AS tetap menjadi tulang punggung kekuatan NATO, berkat armada kapal induk dan kapal selam nuklir yang mampu dikerahkan secara global. Ini berbeda dengan kemampuan angkatan laut Eropa yang digambarkan berteknologi maju namun cakupannya terbatas.

Laporan Newsweek juga menyoroti perbedaan penting dalam bidang senjata nuklir, karena Amerika Serikat, bersama dengan Rusia, memiliki sebagian besar hulu ledak nuklir di dunia. Sementara kemampuan nuklir di dalam NATO – tidak termasuk Washington – hanya terbatas pada Inggris dan Perancis saja.

Newsweek menyimpulkan bahwa NATO, tanpa Amerika Serikat, akan tetap menjadi aliansi militer yang luas namun tidak memiliki pencegahan strategis komprehensif seperti yang disediakan oleh Washington.

Dengan meningkatnya kontroversi seputar Greenland dan meningkatnya ketegangan geopolitik, kenyataan ini menimbulkan semakin banyak pertanyaan tentang masa depan aliansi tersebut, kemampuannya untuk mempertahankan kohesi, dan perannya dalam keseimbangan kekuatan global. 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |