Lembah Kematian Riset

1 hour ago 2

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menyebut sebuah masalah yang terdengar seperti judul film horor: The Valley of Death, Lembah Kematian.

Yang dimaksudnya tentu bukan lembah tempat orang mencari hantu, melainkan jurang yang sering menelan hasil penelitian sebelum sempat menjadi produk.

Arif mengungkap kerisauannya itu dalam Kick-Off Indonesia Innovation Summit & Expo (IISE) 2026 di Jakarta, Selasa (8/9/2026). Sebulan sebelumnya, hal sama disinggung Mendiktisaintek Brian Yuliarto di acara peluncuran Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (PRIMA).

Di satu sisi ada peneliti dengan temuan baru. Di sisi lain ada industri yang membutuhkan teknologi. Di antara keduanya menganga jurang yang membuat banyak temuan akhirnya menjadi prototipe, laporan penelitian, bahan seminar, lalu menghilang dengan tenang di dalam arsip.

Fenomena itu bukan mimpi buruk Indonesia saja. Literatur inovasi sudah lama mengenal technology valley of death. Maksudnya, banyak inovasi yang berhasil melewati riset awal justru gagal ketika harus bergerak menuju prototipe matang, produksi, sertifikasi, pendanaan, dan pasar.

Penelitian akademik sering berhenti pada pembuktian bahwa sesuatu “bisa dilakukan”. Industri mengajukan pertanyaan yang lebih kejam. Apakah hasil penelitian itu bisa diproduksi, berapa biayanya, siapa yang membeli, siapa yang menjamin mutunya, dan kapan menghasilkan uang?

Laboratorium bekerja dengan logika pengetahuan; perusahaan bekerja dengan logika nilai. Peneliti boleh bangga membuat bahan baru dalam skala beberapa gram. Pabrik tidak otomatis ikut bertepuk tangan. Pabrik membutuhkan mutu konsisten, harga masuk akal, mesin tersedia, izin jelas, dan pembeli nyata.

Karena itu, “Lembah Kematian” memiliki beberapa jurang. Ada jurang teknologi ketika prototipe belum matang; pendanaan ketika uang penelitian habis tetapi investor belum berani masuk; industri ketika kampus tak memiliki fasilitas produksi; serta regulasi ketika izin dan standar belum mengikuti.

Inovasi akhirnya seperti mobil yang sudah punya mesin, tetapi belum memiliki jalan, STNK, dan pembeli.

Contoh yang dibawa Arif dari India menarik karena memperlihatkan bagaimana jurang itu dapat dipersempit. Di IIT Madras, Chennai, terdapat Research Park yang dirancang untuk mempertemukan kampus dengan industri dan startup.

Salah satu startup yang tumbuh dari ekosistem itu adalah Agnikul Cosmos. Startup ini mengembangkan teknologi roket, termasuk mesin dengan 3D printing. IIT Madras mencatat Agnikul sebagai incubated startup dalam ekosistem Research Park-nya.

Hasilnya bukan sekadar poster penelitian. Agnikul mengembangkan mesin roket semi-kriogenik dan pada 2024 berhasil melakukan penerbangan suborbital dengan mesin roket single-piece 3D printed dari landasan peluncuran privat di Sriharikota.

Yang menarik justru bukan roketnya. Roket hanya contoh dramatis. Pelajarannya adalah ekosistem. Agnikul tidak disuruh pulang oleh kampus dengan nasihat, “Silakan cari investor sendiri.”

Para pendirinya memperoleh akses ke lingkungan IIT Madras, keahlian dosen, fasilitas penelitian, jaringan industri, inkubasi, dan hubungan dengan ISRO. Kampus tidak sekadar menghasilkan pengetahuan, tetapi membantu pengetahuan itu menempuh perjalanan menuju teknologi yang dapat digunakan.

Itulah yang sering hilang dalam pembicaraan tentang inovasi. Kita menganggap inovasi sebagai urusan menemukan sesuatu. Padahal, penemuan hanyalah bab pertama. Setelah itu ada pekerjaan panjang, mulai dari menguji, memperbaiki, memproduksi, mengurus standar, mencari pengguna, mencari modal, hingga memastikan ada pasar.

Penemuan tanpa ekosistem hilir ibarat menemukan benih unggul lalu menyimpannya dalam brankas. Aman, memang. Tapi tidak tumbuh.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |