Kisah Pasukan Salib Menyerbu Gereja

22 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Perang Salib IV terjadi antara tahun 1202–1204 M. Pergerakan pasukan yang diinisiasi Paus Inosensius III itu memang digadang-gadang bermaksud merebut Baitul Makdis (Yerusalem) dari tangan daulah Islam. Namun, dalam perjalanan dari Eropa Barat ke sana, kaum Salibis ini juga mengepung Konstantinopel (kini bernama Istanbul).

Padahal, kota itu merupakan ibu kota Kekaisaran Bizantium, yang notabene beragama Kristen. Rupanya, kaum Salibis tersebut menganggap Konstantinopel sebagai rival Roma. Ini pun mempertegas perpecahan antara Romawi Barat dan Romawi Timur (Bizantium).

Gereja utama Bizantium, Hagia Sophia, turut menjadi sasaran Pasukan Salib. Nyaris seluruh benda berharga di dalamnya habis dijarah.

Menurut sejarawan Yunani, Niketas Choniates, pada 1203 semua ornamen emas di Hagia Sophia dikelupas. Semua lampu-lampu peraknya dilepas.

Emas dan perak itu lantas digunakan oleh kaisar Bizantium, Isaac II Angelos dan anaknya, Alexios IV Angelos, untuk melunasi utang mereka pada Pasukan Salib. Utang itu muncul sesudah keduanya dibantu oleh Salibis dalam menumbangkan Alexios III Angelos.

Bagaimanapun, Tentara Salib tidak terima dengan pembayaran ini, yang dinilai terlalu sedikit. Karena itu, mereka menyerang Konstantinopel dan menjarah seisi kota pada 1204.

Alexios IV Angelos pun hanya setahun menjadi kaisar Bizantium. Takhta terpaksa dilepaskannya akibat serangan Salibis ini.

Aksi Penjarahan Konstantinopel 1204 semakin memperburuk hubungan antara Katolik Latin dan Kristen Ortodoks. Keretakan antarkeduanya memang sudah terjadinya ratusan tahun sebelumnya, yakni sejak Skisma 1054.

Keji dan kejam

Paul M Cobb, dalam Race for Paradise: An Islamic History of the Crusades, mengatakan, Perang Salib tak ubahnya invasi yang dilakukan orang-orang pinggiran terhadap penduduk yang lebih maju dan berkembang. Maka dari itu, serangan pasukan salib atas Yerusalem pada 7 Juni 1099 menimbul kan trauma bagi kaum Muslimin.

Mereka merasa terkejut, bagaimana mungkin suatu masyarakat yang maju dapat dikalahkan oleh gerombolan yang merangsek tanpa aturan?

Graham E Fuller, guru besar sejarah dari Simon Fraser University, dalam A World Without Islam mengatakan, orang-orang Kristen yang sampai ke Yerusalem saat itu umumnya adalah orang-orang bodoh serta bingung secara budaya dan geografis.

Tak sedikit dari mereka yang datang dalam keadaan lapar, sehingga terdorong nafsu untuk melakukan kekejaman dalam skala masif di negeri orang. Bahkan, muncul pula kasus kanibalisme.

Sejumlah pasukan salib itu tidak hanya membunuh orang-orang non-Kristen (termasuk Yahudi dan Kristen ortodoks), melainkan juga memakan bangkai mereka.

“Di Ma'arra (Suriah), pasukan-pasukan kami merebus orang-orang kafir dewasa dalam panci-panci masak, mereka memanggang anak-anak di panci-panci panjang dan melahap mereka,” begitu kesaksian Radulph dari Caen, seorang prajurit salibis pada 1098.

Kondisi demikian sangat tak sebanding dengan toleransi yang diberlakukan Umar bin Khattab. Sejarah mencatat, pasukan Muslimin di bawah pemerintahan al-Faruq berhasil menaklukkan Baitul Makdis (Yerusalem) pada 637 M.

Semasa hidup Nabi Muhammad SAW, Yerusalem tidak pernah berada di bawah kendali politik Muslim. Maka masa kekhalifahan Umar bin Khattab, yang merupakan khalifah kedua Islam, menjadi tonggak amat penting.

Segera setelah menerima kunci kota suci tersebut, Khalifah Umar bin Khattab menetapkan perlindungan atas gereja-gereja Kristen setempat. Demikian pula, sosok berjulukan al-Faruq itu mempersilakan kaum Yahudi untuk membangun kembali sinagoge di sana.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |