loading...
Kesempatan untuk berkarya seharusnya dapat dimiliki siapa saja, termasuk penyandang disabilitas.
JAKARTA - Kesempatan untuk berkarya seharusnya dapat dimiliki siapa saja, termasuk penyandang disabilitas. Namun dalam kehidupan sehari-hari, keterbatasan akses dan ruang untuk menunjukkan kemampuan masih menjadi tantangan yang membuat banyak potensi belum tergali secara maksimal.
Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) dari sekitar 17 juta penyandang disabilitas usia produktif hanya mencapai 20,14 persen pada 2025. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih banyak penyandang disabilitas yang belum mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi secara optimal dalam dunia kerja maupun kegiatan produktif.
Padahal, keterbatasan fisik maupun kondisi tertentu tidak serta-merta membatasi kreativitas. Dengan pendampingan dan ruang yang tepat, karya yang lahir bahkan dapat memiliki nilai artistik sekaligus ekonomi.
Semangat inilah yang dijalankan Nurdini Prihastiti atau akrab disapa Dini melalui Dama Kara. Jenama fesyen tersebut melibatkan penyandang disabilitas dalam proses kreatif, salah satunya dengan mengembangkan imajinasi dan karya gambar mereka menjadi berbagai desain fesyen.
Karya yang dihasilkan bukan hanya menjadi sarana berekspresi. Sejumlah desain kemudian diterapkan pada produk busana hingga mendapat kesempatan tampil dalam ajang fesyen internasional.
“Saya berkomitmen membuat Dama Kara sebagai sebuah wadah penyandang disabilitas ini untuk bisa berkarya dan merangkul mereka. Kami percaya bahwa sejatinya berkarya itu tidak mengenal keterbatasan,” tutur Dini, pendiri Dama Kara sekaligus CEO Dama Kara Foundation.
Baca Juga: 10 Tahun UU Disabilitas, Angkie: Keberhasilan Kebijakan Ditentukan oleh Wujud Nyata Implementasi
Berawal dari Keinginan Memberi Manfaat
Perjalanan Dini membangun usaha yang memiliki dampak sosial tidak terjadi dalam waktu singkat. Seusai menyelesaikan pendidikan S1 Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat di Institut Pertanian Bogor (IPB)/IPB University, perempuan kelahiran Lamongan, Jawa Timur tersebut sempat bekerja di sebuah perusahaan nasional.
Kariernya berkembang cukup baik. Namun di tengah perjalanan, Dini mulai mempertanyakan seberapa besar manfaat yang telah ia berikan kepada masyarakat.
Keinginan untuk menciptakan dampak yang lebih luas kemudian membuatnya meninggalkan pekerjaan tersebut dan pindah ke Bandung. Di kota itu, Dini melanjutkan pendidikan S2 Administrasi Bisnis di Institut Teknologi Bandung (ITB), sekaligus merintis usaha konveksi bersama suaminya.
“Saya merasa dengan berbisnis, manfaat yang bisa saya berikan sepertinya akan lebih banyak. Dalam artian, saya bisa menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang-orang di sekitar saya ataupun membuat bisnis yang memiliki manfaat lebih banyak lagi,” paparnya.
Perjalanan bisnis tersebut ternyata tidak selalu mulus. Beberapa tahun setelah memulai usaha, Dini dan suaminya menghadapi kejadian yang memberikan pukulan besar.
Kapal yang membawa produk pesanan salah satu klien di Kalimantan mengalami kebakaran di tengah laut. Seluruh barang di dalam kapal, termasuk seragam dan suvenir yang mereka produksi, ikut hangus.
Dini terpaksa memproduksi ulang seluruh pesanan dengan kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Namun peristiwa tersebut justru menjadi salah satu titik refleksi penting dalam hidupnya.
“Nah, di titik itu yang kemudian menyadarkan saya bahwa sebenarnya semua yang kita miliki ini titipan Tuhan. Akhirnya saya dan suami sepakat bahwa kita kayaknya kurang beramal. Kalau (pesanan) salah size atau kualitasnya kurang, kita bisa perbaiki. Tapi kalau barang terbakar di tengah laut, itu kan sesuatu yang di luar kuasa kami sebagai manusia,” ucapnya.
Dari pengalaman itu, Dini dan suaminya mulai memikirkan bagaimana aktivitas bisnis yang mereka jalankan dapat berjalan berdampingan dengan kegiatan sosial.
Basisnya tetap berada pada dunia sandang dan konveksi yang telah mereka tekuni. Namun Dini mencari bentuk pemberdayaan yang tidak berhenti pada kegiatan filantropi sesaat, melainkan dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Ketika Dama Kara mulai berdiri pada awal 2020, salah satu langkah yang dilakukan adalah melibatkan perajin serta penjahit perempuan di sekitar tempat usaha mereka di Bandung dan beberapa wilayah Jawa Barat.
Karena cukup banyak produknya dikerjakan dengan teknik handmade, sejumlah ibu mendapat pelatihan untuk kemudian terlibat dalam pengerjaan busana.
“Harapannya ibu-ibu mendapat tambahan pendapatan,” kata Dini.
Seiring waktu, Dini merasa jangkauan tersebut masih dapat diperluas. Perhatian kemudian diarahkan kepada kelompok yang dinilainya masih memiliki ruang terbatas untuk berkarya, yakni penyandang disabilitas.
Baca Juga: Peserta Penmaba Jalur Disabilitas UNJ 2026 Meningkat, Ini Jurusan Favoritnya
Seni sebagai Ruang Ekspresi





































