Keraton Yogyakarta Ubah Prosesi Grebeg Besar Tahun Ini

4 hours ago 4

KERATON Yogyakarta menyederhanakan tahapan prosesi upacara adat Garebeg atau Grebeg Besar yang bertepatan Hari Raya Iduladha 1447H/Dal 1959 pada Rabu, 27 Mei 2026 mendatang. Berbeda dengan penyelenggaraan tahun sebelumnya, perhelatan kali ini akan berlangsung jauh lebih sederhana tanpa tradisi arak-arakan prajurit keraton dan prosesi rayahan gunungan oleh masyarakat pada penghujung acara.

Pihak Keraton Yogyakarta melalui penanggungjawab prosesi Kanjeng Raden Tumenggung Kusumanegara menuturkan, penyederhanaan format upacara adat tersebut dilakukan demi mematuhi dhawuh atau titah Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

"Kami mendapat dhawuh Dalem (Sultan HB X) untuk menyederhanakan prosesi Garebeg, yang dimulai dari acara Garebeg Besar nanti," ungkap Kusumanegara, di Yogyakarta, Rabu, 20 Mei 2026.

Selaku pelaksana teknis di lapangan, ia memastikan para abdi dalem mengemban aturan baru ini dengan sebaik-baiknya. Penyederhanaan ritual ini juga mencakup sejumlah prosesi yang biasanya mengawali jalannya ritual traadisi itu hingga acara puncak di area publik. Misalnya, upacara pembuka seperti Gladhi Resik Prajurit dan ritual Numplak Wajik yang sedianya dilaksanakan tiga hari sebelum hari puncak Garebeg, akan ditiadakan.

Meski demikian, pihak keraton memastikan bahwa esensi sedekah dari raja kepada rakyatnya tidak akan hilang. Melainkan diwujudkan dalam pembagian uba rampe pareden (sesaji persembahan) yang disalurkan secara terbatas untuk kalangan internal.

"Jadi secara prosesi, penyelenggaraannya nanti akan mirip seperti ketika pandemi COVID-19 dulu. Tidak ada gunungan yang keluar dari keraton, tidak ada iring-iringan prajurit juga, seluruh uba rampe hanya dibagikan kepada Abdi Dalem Keraton," kata Kusumanegara.

Menyesuaikan Situasi dan Kondisi

Penyesuaian format kebudayaan ini bukan hal baru dalam sejarah panjang dinasti Mataram Islam di Yogyakarta. Wakil Penghageng II Kawedanan Sri Wandawa Karaton Yogyakarta, KRT Sindurejo menuturkan, ritual grebeg kerap bersifat dinamis dan selalu mengalami transformasi bentuk dari masa ke masa. 

"Mulai dari era Sultan terdahulu yang menghadirkan grebeg sebagai upacara terbesar lengkap dengan kehadiran Sultan, sempat mengalami penyederhanaan pada masa perjuangan kemerdekaan," ujar Sindurejo.

Ia menambahkan bahwa pada periode kepemimpinan Sri Sultan Hamengku Buwono X, penyederhanaan serupa juga pernah diberlakukan ketika wilayah DIY dilanda pandemi COVID-19 beberapa tahun lalu. Hal ini menunjukkan baha rangkaian upacara budaya di lingkungan Keraton Yogyakarta dapat disesuaikan dengan masa, situasi, serta kondisi tertentu, tanpa harus mengorbankan nilai dasar dan esensi utamanya.

Adapun Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi berharap masyarakat juga dapat menghargai, serta menghormati langkah penyesuaian oleh Keraton tersebut. Dian meyakini keputusan perubahan ini tidak akan sedikit pun mengurangi bobot kesakralan dari upacara adat istana tersebut.

"Masyarakat perlu memahami bahwa penyesuaian format tahun ini merupakan bentuk penyederhanaan dan bukan peniadaan upacara adat," kata dia.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |