Gempa Susulan dari Laut Maluku dan Keunikan Subduksi Ganda

5 hours ago 1

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG masih mencatat rangkaian gempa yang bisa dirasakan guncangannya di Maluku Utara dan Sulawesi Utara hingga Jumat siang, 3 April 2026. Gempa utama M7,6 terjadi pada Kamis pagi pukul 05.48 WIB. Gempa dari Laut Maluku itu memicu tsunami kecil antara lain di Minahasa Utara (75 sentimeter), meski potensinya bisa sampai 3 meter.

Rangkaian gempa susulan pada hari ini dicatat BMKG antara lain terjadi pada pukul 01.46, 02.08, 04.06, 04.20, 07.22, 10.37, dan 11.42. Rata-rata gempa itu dicatat BMKG hanya mengguncang lemah Pulau Batang Dua, Kota Ternate, Maluku Utara. Pulau ini memang terdekat dari pusat gempa yang berada di zona megathrust di Laut Maluku sebelah utara tersebut.

Hanya gempa pukul 07.22 (M5,4) yang guncangannya dicatat dirasakan hingga Kota Ternate, yakni pada skala III-IV MMI. Pada III MMI, guncangan gempa dirasakan nyata di dalam rumah seakan ada truk melintas, sedang IV MMI guncangan gempa bisa sampai membuat pintu dan jendela rumah berderik.

Dalam keterangan sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkap gempa susulan dari gempa utama M7,6 pada Kamis pagi lalu mungkin berlangsung berhari-hari. Dia mengimbau masyarakat di Maluku Utara dan Sulawesi Utara yang terdampak tetap waspada.

Adapun gempa utama disebutkan dipicu oleh aktivitas deformasi kerak bumi akibat aktivitas subduksi Laut Maluku. Berasal dari kedalaman 33 kilometer , gempa dangkal ini memiliki mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Dampaknya, guncangan sampai V-VI MMI di Ternate, V di Halmahera Utara, dan IV-V MMI di Manado. 

Pada skala V MMI, getaran dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun, gerabah pecah, barang-barang terpelanting, tiang-tiang, dan barang besar tampak bergoyang, bandul lonceng dapat berhenti. Pada VI MMI, guncangan gempa dirasakan oleh semua penduduk dan membuat kepanikan hingga orang-orang berhamburan ke luar rumah. Pada VI MMI pula gempa biasanya sudah bersifat merusak bangunan. 

Terpisah, Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia yang juga anggota Pusat Studi Gempa Nasional Daryono menyebut gempa-gempa dengan mekanisme sesar naik di wilayah Laut Maluku merupakan konsekuensi langsung dari dinamika tektonik kompleks pada zona subduksi ganda yang unik di kawasan ini. 

Pusat gempa berada di Laut Maluku, dekat Pulau Batang Dua, atau 127 km arah tenggara Bitung, Sulawesi Utara. Dok. BMKG

Diterangkannya, Laut Maluku diapit oleh dua busur subduksi aktif, yaitu Lempeng Laut Maluku yang tersubduksi ke arah barat di bawah Busur Sangihe, serta ke arah timur di bawah Busur Halmahera. "Kondisi ini menyebabkan akumulasi tegangan kompresi yang sangat intens pada kerak bumi," kata Daryono dalam keterangan yang dibagikannya, Jumat 3 April 2026.

Adanya interaksi kompleks antara dua sistem subduksi yang saling berhadapan (arc-arc collision) tersebut juga memperkuat intensitas deformasi. Ini, menurut Daryono, meningkatkan frekuensi kejadian gempa dengan mekanisme sesar naik dari kawasan yang sama.

"Dari perspektif kebencanaan, gempa thrust atau sesar naik di Laut Maluku memiliki signifikansi tinggi karena berpotensi menghasilkan deformasi dasar laut secara vertikal, yang dapat memicu tsunami," katanya sambil menambahkan, "Terutama jika terjadi pada kedalaman dangkal dan melibatkan pergeseran besar di bidang patahan." 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |