Gejolak Timur Tengah Pacu Transisi Energi, Dampaknya Belum Terlihat pada Emisi

9 hours ago 5

Kondisi tersebut mendorong sejumlah negara memperkuat kebijakan transisi energi. Hingga saat ini, sedikitnya 30 negara telah menerapkan kebijakan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil atau meningkatkan efisiensi energi.

Namun, di tengah kebijakan tersebut, emisi gas rumah kaca global masih meningkat meski tipis. Investasi energi bersih pada tahun ini juga tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sejumlah pakar menilai gejolak di Timur Tengah dapat mempercepat adopsi energi bersih. Namun, dunia hingga kini masih sangat bergantung pada bahan bakar fosil.

Para pakar juga mengingatkan kebijakan transisi energi yang baru diterbitkan membutuhkan waktu sebelum memberikan dampak nyata terhadap penggunaan energi dan emisi.

"Pemerintah-pemerintah dunia saat ini sedang terayun-ayun antara mengakui pentingnya energi bersih sambil terus mendukung ekspansi bahan bakar fosil. Kami melihat interaksi antara dunia lama dan baru saling berkontradiksi satu sama lain," kata dosen King's College London, Pauline Heinrich, Sabtu (19/9/2026).

Di Inggris, misalnya, pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tumbuh pesat. Namun, pada saat yang sama, pemerintah di London juga mempertimbangkan perluasan produksi gas alam.

Di Asia, permintaan terhadap kendaraan listrik dan PLTS terus meningkat. Indonesia juga mengganti sejumlah pembangkit listrik tenaga diesel dengan PLTS. Namun, pada saat yang sama, Indonesia meningkatkan penggunaan batu bara untuk sejumlah industri berat.

Data Clean Investment Monitor yang dikelola perusahaan konsultan Rhodium Group menunjukkan investasi global untuk pembangkit listrik tenaga angin dan surya pada paruh pertama 2026 turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan tersebut menjadi yang pertama setelah investasi energi bersih tumbuh selama beberapa tahun.

Direktur Rhodium Group, Hannah Pitt, mengatakan investasi energi bersih di Cina, yang selama ini menjadi salah satu penggerak utama industri energi bersih, mengalami penurunan. Sementara itu, investasi PLTS di AS, Eropa, dan India yang sangat terdampak kenaikan harga minyak dan gas, mengalami pertumbuhan.

Investasi pembangkit listrik tenaga angin di ketiga perekonomian tersebut relatif stabil atau tumbuh.

Pada Februari lalu, ilmuwan iklim dari Stanford University, Rob Jackson, mengatakan anggapan serangan AS dan Israel terhadap Iran akan mendorong penggunaan energi terbarukan merupakan "hanya angan-angan", kecuali konflik berlangsung dalam waktu lama.

Enam bulan kemudian, Jackson mengatakan ia tidak memperkirakan harga minyak akan bertahan di kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel dalam waktu yang sangat lama.

Menurut Jackson, langkah seperti memberikan insentif pembelian kendaraan listrik, berinvestasi pada infrastruktur, serta mendorong elektrifikasi secara luas dapat membantu mengatasi perubahan iklim. Namun, kebijakan tersebut harus dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

"Kita harus melakukan langkah-langkah itu selama bertahun-tahun, selama berpuluh-puluh tahun, untuk memberikan dampak pada masalah iklim," kata Jackson.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |