PRESIDEN Prabowo Subianto sangat optimistis Indonesia mampu bangkit sebagai kekuatan besar dunia atau rising giant saat meresmikan fasilitas perakitan kendaraan komersial listrik PT VKTR Sakti Industries di Magelang, Jawa Tengah, Kamis, 9 April 2026. Menurut Kepala Negara, Indonesia punya sumber daya yang besar terutama di sektor energi.
Prabowo menyatakan kekayaan sumber daya alam menjadi modal besar untuk optimistis di tengah ketidakpastian dunia. “Kita harus waspada, tapi kita optimistis. Kita akan menghadapi tantangan beberapa bulan yang akan datang, tapi kita punya resources. Kita punya sumber-sumber yang sangat kuat, sangat banyak,” ucapnya seperti dikutip dari keterangan resmi Sekretariat Presiden, Sabtu, 11 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Presiden, untuk dapat bertahan hidup, Indonesia harus mandiri di bidang-bidang yang paling menentukan, yang paling utama di antaranya adalah pangan dan energi. “Tahun depan kita akan bikin kejutan untuk seluruh dunia, Indonesia sedang bangkit. This giant is waking up. We will not be anymore the sleeping giant, we are rising,” ucapnya.
Ekonom sekaligus Dosen Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menyatakan sumber daya alam melimpah memang bisa menjadi modal, tapi bukan tujuan. Memiliki SDA pun tak akan membuat Indonesia bangkit kalau komoditas itu tak diubah menjadi nilai tambah.
Achmad mencontohkan produk nikel, bauksit, tembaga, dan komoditas lain. “Jika hanya dijual mentah atau setengah jadi, Indonesia tetap akan berada dalam posisi lama, yaitu pemasok bahan baku,” ucapnya kepada Tempo, Jumat 10 April 2026.
Padahal, kata dia, data menunjukkan basis modal RI sangat kuat. Indonesia memiliki sumber daya bijih nikel 19,16 miliar ton dengan cadangan 5,9 miliar ton. Sumber daya bauksit mencapai 7,79 miliar ton dengan cadangan 2,86 miliar ton. Tembaga dan batu bara juga sangat besar.
Di sektor energi, misalnya, panas bumi Indonesia termasuk salah satu yang terbesar di dunia. “Dengan kapasitas sebesar ini, Indonesia sebenarnya punya cukup bahan untuk membangun hilirisasi yang serius dan menurunkan ketergantungan pada ekspor mentah,” ucapnya.
Achmad menyatakan, dalam beberapa tahun terakhir, arah kebijakan hilirisasi mulai menunjukkan hasil. Ekspor Indonesia kini tidak lagi sepenuhnya didominasi oleh bahan mentah. Tapi persoalannya, banyak produk olahan Indonesia masih berhenti pada tahap awal.
Ia menekankan masalah utamanya bukan pada kurangnya sumber daya, melainkan pada kualitas pemanfaatannya. Tantangan lain adalah soal arah transisi ekonomi. Indonesia masih sangat bergantung pada komoditas yang mudah dijual hari ini, seperti batubara, sementara potensi energi bersih seperti panas bumi justru belum dimanfaatkan maksimal.
Lebih jauh, Achmad menyebutkan, Indonesia memang memiliki sumber-sumber kekayaan alam yang sangat kuat dan sangat banyak. Tetapi kekuatan tak hanya cukup dari banyaknya isi bumi semata, namun dari kemampuan mengubah kekayaan alam menjadi kedaulatan industri.
Bila itu berhasil, Indonesia tidak hanya keluar dari jebakan eksportir komoditas mentah, tetapi benar-benar berdiri sebagai rising giant yang disegani. “Jika gagal, kita hanya akan tetap menjadi gudang besar yang ramai didatangi pembeli, tetapi tidak pernah sungguh sungguh menjadi pemilik masa depan sendiri,” ucap Achmad.















































