Dari Tanah Suci, Para Haji Membawa Pulang Semangat Melawan Penjajahan dan Kolonialisme

3 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Ibadah haji bagi umat Islam Nusantara pada masa kolonial tidak berhenti sebagai perjalanan spiritual untuk menunaikan rukun Islam. Perjalanan menuju Tanah Suci juga menjadi ruang perjumpaan, pertukaran ilmu dan gagasan, serta tumbuhnya kesadaran bersama tentang kondisi umat Islam di berbagai belahan dunia. Dari Makkah, sebagian jamaah haji Nusantara membawa pulang semangat pembaruan dan kesadaran untuk melawan penjajahan dan kolonialisme yang kemudian turut mempengaruhi gerakan perlawanan terhadap penjajah di Tanah Air.

Ibadah haji bukan hanya persoalan ritual kewajiban agama Islam, bukan pula hanya aspek ekonomi, jalinan keilmuan antara Nusantara dan Timur Tengah. Ibadah haji juga sebagai media transmisi gerakan pembaharuan dan konsolidasi gerakan perlawanan kepada pemerintah kolonial Belanda di bumi Nusantara. Selain dari itu semua, ibadah haji juga sangat jelas menunjukkan fungsi transformasi masyarakat.

Aktifitas perjalanan haji telah ada sejak masa-masa awal masuknya Islam di Nusantara. Artinya, sejarah haji di Nusantara berusia setua sejarah Islam sendiri karena begitu seseorang masuk Islam, dia dihadapkan pada lima kewajiban dasar yang harus dipenuhi yang disebut rukun Islam (arkan al-Islam), menunaikan haji ke Makkah adalah salah satu dari rukun Islam.  

Di antara banyak fungsi transformatif ibadah haji, satu di antaranya ibadah haji sebagai pemersatu kesadaran nasional di bumi Nusantara. Kesadaran nasional tidak hanya terbentuk di Indonesia, tapi juga tumbuh di luar negeri terutama di Makkah dalam suasana ibadah haji karena jamaah dari berbagai daerah di Indonesia berdatangan setiap musim haji.

Bagi yang sudah mukim di Makkah mereka bebas melakukan pertemuan.

Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfungsi sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara. Bayangkan, di Makkah orang dari Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi Selatan, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Minangkabau dan Aceh selama lima bulan bebas bergaul, tukar pengalaman dan pikiran.

Snouck Hurgronje mencatat bagaimana orang dari seluruh Nusantara ikut membicarakan perlawanan Aceh terhadap Belanda, dan bagaimana mata mereka dibuka mengenai penjajahan Belanda maupun Inggris dan Prancis atas bangsa-bangsa Islam. Di Makkah, jauh sebelum Sumpah Pemuda, bahasa Melayu sudah berfungsi sebagai ikatan pemersatu orang Nusantara.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |