Dampak Tarif Resiprokal Trump terhadap Industri di Indonesia

19 hours ago 2

TEMPO.CO, Jakarta - Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Fadhil Hasan, menilai bahwa dampak kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat terhadap Indonesia relatif moderat.

“Menurut pendapat saya, kalau dari sisi perdagangan, impact yang akan ditimbulkan oleh kebijakan Trump ini, resiprocal tariff, itu mungkin bagi perdagangan Indonesia itu bisa dikatakan mungkin moderat,” ujarnya dalam Diskusi Publik “Waspada Genderang Perang Dagang” yang diadakan oleh Indef di Jakarta, Jumat, 4 April 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Secara keseluruhan, Fadhil menyebut ada sekitar 10 komoditas ekspor Indonesia yang terdampak tarif resiprokal dari AS.

Dilansir dari Antara, sejumlah produk ekspor Indonesia seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan minyak sawit diperkirakan akan terkena dampak dari kebijakan ini, terkhusus industri tekstil Indonesia dikhawatirkan kian merosot.

Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia mencatat 60 perusahaan tekstil tutu dalam dua tahun terakhir. Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan mencatat lebih dari 24 ribu buruh tekstil terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sepanjang 2024.

Ikatan Pengusaha Konveksi Bekarya juga memrediksi penutuan pabrik dan PHK yang terungkap baru perusahaan menengah dan besar. Lebih dari itu, PHK di industri kecil dan menengah (IKM) jauh lebih besar, diperkiran mencapai 1.000 unit dengan tenaga kerja yang kehilangan mata pencaharian ratusan ribu orang.

Namun, karena kebijakan ini juga diterapkan ke berbagai negara lain, termasuk pesaing Indonesia seperti Vietnam, Malaysia, dan Thailand, ia menilai dampaknya terhadap Indonesia cenderung lebih ringan.

“Bahkan, mungkin bagi Vietnam ataupun Malaysia itu akan menghadapi level tarif yang lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia,” kata dia. 

Amerika Serikat saat ini menempati posisi sebagai mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia setelah Tiongkok. Sekitar 10,5 persen dari total ekspor Indonesia ditujukan ke pasar Amerika, menjadikan negara tersebut salah satu tujuan utama bagi berbagai produk unggulan Tanah Air.

Selain itu, Indonesia juga berhasil mencatatkan surplus perdagangan yang signifikan dengan AS, yakni sebesar 16,8 miliar dolar AS. Surplus ini menunjukkan bahwa nilai ekspor Indonesia ke AS jauh melebihi nilai impornya dari negara tersebut, mencerminkan hubungan perdagangan yang selama ini cenderung menguntungkan bagi Indonesia.

Namun, kondisi ini berpotensi berubah sejak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kebijakan baru terkait tarif impor pada Rabu, 2 April 2025. Dalam pernyataannya, Trump menetapkan kenaikan tarif impor dengan angka minimum sebesar 10 persen, yang berlaku terhadap banyak negara di dunia, termasuk Indonesia. Kebijakan ini merupakan bagian dari langkah besar yang diklaim bertujuan melindungi industri domestik AS dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.

Dalam daftar negara-negara yang terkena dampak kebijakan ini, Indonesia menempati urutan kedelapan, dengan tarif yang dikenakan mencapai 32 persen. Jumlah ini tergolong tinggi dibandingkan dengan banyak negara lain, dan berpotensi menekan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar Amerika.

Secara keseluruhan, sekitar 60 negara tercantum dalam daftar penerima kebijakan tarif baru ini. Mereka dikenai tarif timbal balik yang besarnya ditentukan berdasarkan setengah dari tarif yang mereka kenakan terhadap produk ekspor asal AS. Kebijakan ini dianggap sebagai bentuk respons terhadap praktik perdagangan yang oleh pemerintah AS dinilai tidak adil dan merugikan kepentingan ekonomi domestik mereka.

Dalam daftar tersebut, Indonesia bukan satu-satunya negara Asia Tenggara yang terdampak. Negara lain seperti Malaysia, Kamboja, Vietnam, dan Thailand juga mengalami kenaikan tarif masing-masing sebesar 24 persen, 49 persen, 46 persen, dan 36 persen.

Trump menyatakan bahwa kebijakan tarif ini bertujuan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja di dalam negeri. Ia dan pejabat pemerintahannya beranggapan bahwa AS telah dirugikan oleh berbagai negara melalui praktik perdagangan yang dianggap tidak adil.

Tarif-tarif yang sebelumnya telah lama diancamkan oleh Trump akhirnya diumumkan dalam acara bertajuk "Make America Wealthy Again" yang digelar di Rose Garden, Gedung Putih.

Ilona Estherina dan Vindry Florentin berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |