Kendaraan mengantre menunggu mobil pengangkut BBM tiba di SPBU daerah Lampahan, Timang Gajah, Bener Meriah, Aceh, Sabtu (27/12/2025). Antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular hingga sekitar 1 kilometer untuk mendapatkan BBM di SPBU tersebut. Menurut pengakuan warga, Ari Sembiring, ia sudah menyimpan kendaraannya untuk masuk amtrean sejak Jumat (26/12). Sementara menurutnya, kendaraan pengangkut BBM perjalanannya terhambat lantaran macet dan terjebak lumpur di jalur menuju Bener Meriah.
REPUBLIKA.CO.ID,HANOI — Negara-negara pendapatan rendah dan menengah menjadi pihak yang paling terdampak krisis energi yang dipicu serangan AS dan Israel ke Iran. Perang menghentikan hampir seluruh ekspor minyak melalui Selat Hormuz, jalur sempit yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Gangguan ini mengguncang pasar energi global, memicu lonjakan harga serta memberi tekanan besar pada negara-negara yang bergantung pada impor energi. Negara-negara miskin di Asia dan Afrika harus bersaing dengan negara kaya di Eropa dan Asia, serta pembeli besar seperti India dan China, untuk mendapatkan pasokan gas yang semakin terbatas.
Persaingan ini mendorong harga semakin tinggi dan memperburuk tekanan ekonomi. Sejumlah negara yang sangat bergantung pada impor energi seperti Benin dan Zambia di Afrika, serta Bangladesh dan Thailand di Asia, berpotensi mengalami guncangan paling besar.
Kenaikan harga bahan bakar berdampak langsung pada biaya transportasi dan harga pangan, sementara cadangan devisa yang terbatas membuat mereka kesulitan membayar impor jika harga tetap tinggi.
Afrika dinilai paling rentan karena banyak negara di kawasan itu masih bergantung pada minyak impor untuk menjalankan transportasi dan rantai pasok. Kondisi ini mendorong perlunya strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan energi.
“Masuk akal secara strategis bagi negara-negara Afrika untuk membangun ketahanan energi jangka panjang melalui investasi pada energi yang lebih bersih,” kata Kennedy Mbeva dari University of Cambridge, Jumat (20/3/2026)
Namun, tidak semua negara memilih jalur energi terbarukan. Afrika Selatan, misalnya, mempertimbangkan pembangunan terminal impor LNG dan pembangkit listrik berbahan bakar gas baru. Di sisi lain, Ethiopia justru mempercepat transisi energi bersih, termasuk melarang kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel sejak 2024 untuk mendorong penggunaan kendaraan listrik.
Analis dari lembaga think tank Ethiopia, Hanan Hassen, menilai tantangan utama bukan hanya bertahan dari krisis, tetapi memastikan gangguan energi tidak menggagalkan jalur pembangunan negara. “Tantangan sesungguhnya adalah memastikan krisis ini tidak mengganggu arah pembangunan,” ujarnya.
sumber : AP

3 hours ago
1















































