Bersegera dalam Kebaikan

1 day ago 7

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dalam menyebarkan risalah Islam, Nabi Muhammad SAW mendapat dukungan dari para sahabat. Di antara mereka ialah Zaid bin Sahl al-Khazraji. Ia lebih dikenal dengan panggilan Abu Thalhah al-Anshari.

Rasulullah SAW pun menyukai keberadaan Abu Thalhah di sisinya. Sahabat beliau itu termasuk golongan yang sangat dermawan. Ringan sekali tangannya dalam memberikan harta untuk kepentingan agama dan umat.

Suatu hari, Nabi SAW menerima wahyu, yakni Alquran surah Ali Imran ayat 92. Artinya, “Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” Beliau lantas mengabarkan perihal ayat tersebut kepada sekalian Muslimin.

Abu Thalhah kebetulan sedang berada di luar kota. Sesampainya di Madinah, sahabat dari golongan Anshar itu mengobrol dengan orang-orang. Hingga diketahuinya bahwa sebuah wahyu telah turun kepada Nabi SAW, yakni surah ke-92 dari Ali Imran itu.

Tanpa menunda waktu sedikit pun, Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah SAW. Begitu menjumpai al-Musthafa, ia langsung mengucapkan salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, telah turun firman Allah kepada engkau, yakni (yang artinya) ‘Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai.’”

“Benar,” ujar Nabi SAW.

“Aku ingin mengamalkan apa-apa yang diperintahkan Allah, yakni menyedekahkan yang kucintai, wahai Rasulullah. Semoga sedekahku ini mendapatkan kebaikan sekaligus menjadi simpanan di sisi Allah,” katanya.

Abu Thalhah lalu menyedekahkan kebun kurma kesayangannya. Kebun Bairuha’, demikian lahan itu dinamakannya, terletak persis di depan Masjid Nabawi. Tidak hanya luas, area perkebunan itu ditumbuhi banyak pohon kurma yang subur dan berbuah manis. Beberapa kali, Nabi SAW mencicipi hasil kebun milik sahabatnya itu.

“Ambil dan letakkanlah Kebun Bairuha’ di tempat yang pantas menurut engkau, ya Rasulullah. Terimalah kebun Bairuha’, harta yang aku cintai ini, sebagai sedekah. Aku serahkan kepada engkau untuk dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan,” tutur Abu Thalhah.

Nabi SAW menyambut sedekah itu. “Inilah harta yang diberkahi. Aku telah mendengar apa yang kau ucapkan dan aku menerimanya. Aku kembalikan lagi kepadamu dan berikanlah ia kepada kerabat-kerabat terdekatmu,” sabda beliau.

Rasulullah SAW menyarankan agar harta itu dibagikan kepada keluarga Abu Thalhah sendiri, yakni sanak famili terdekat yang sangat membutuhkan. Setelah itu, pembagian kepada orang-orang lain dari kalangan Muslimin.

Abu Thalhah juga memberikan bagian kepada Rasulullah SAW. Beliau lantas memberikan bagiannya itu kepada seorang penyair, Hassan bin Tsabit al-Anshari, serta sejumlah sahabat yang memerlukan. Di antara mereka ialah Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |