150 Ribu Ton Sudah Dibuang, Jepang Belum Selesai dengan Limbah Nuklir Fukushima

2 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jepang memulai putaran terbaru pembuangan air limbah olahan dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima Daiichi ke Samudra Pasifik pada Senin (1/6/2026). Langkah ini menjadi pelepasan ke-20 sejak program tersebut dimulai pada Agustus 2023 di tengah kontroversi yang terus memicu penolakan dari sejumlah pihak.

Operator PLTN Fukushima, Tokyo Electric Power Company Holdings (TEPCO), menyatakan putaran terbaru pembuangan akan berlangsung hingga 19 Juni mendatang. Dalam periode tersebut, sekitar 7.800 ton air limbah akan dialirkan ke laut.

Menurut TEPCO, air yang akan dilepaskan mengandung sekitar 1,3 triliun becquerel tritium setelah melalui proses pengolahan yang diklaim telah memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan otoritas Jepang dan pengawas internasional.

PLTN Fukushima Daiichi mengalami kerusakan parah setelah dihantam gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,0 dan tsunami pada 11 Maret 2011. Gempa dan gelombang tsunami setinggi belasan meter tersebut melumpuhkan sistem pendingin pembangkit, sehingga tiga inti reaktor mengalami peleburan (meltdown). Insiden itu memicu kebocoran radiasi dalam jumlah besar ke lingkungan sekitar dan menjadi salah satu bencana nuklir terburuk dalam sejarah modern.

Badan pengawas internasional kemudian menetapkan Fukushima sebagai kecelakaan nuklir level 7 dalam Skala Peristiwa Nuklir dan Radiologi Internasional (INES), kategori paling serius yang juga pernah disematkan kepada bencana nuklir Chernobyl di Ukraina pada 1986.

Pemerintah Jepang dan TEPCO berulang kali menegaskan bahwa air yang dilepas telah melalui proses penyaringan untuk menghilangkan sebagian besar zat radioaktif sebelum dibuang ke laut. Namun, kebijakan tersebut masih menuai kritik dari kalangan nelayan lokal, warga sekitar, serta sejumlah negara yang khawatir terhadap dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan ekosistem laut.

Penolakan terhadap program pembuangan juga muncul sejak rencana tersebut pertama kali diumumkan. Para nelayan menilai langkah itu berpotensi merusak kepercayaan konsumen terhadap hasil tangkapan laut dari wilayah Fukushima, sementara kelompok lingkungan mempertanyakan dampak jangka panjang pelepasan air yang mengandung tritium ke lautan.

Sejak program pembuangan dimulai pada Agustus 2023, TEPCO telah menyelesaikan 19 putaran pelepasan air limbah. Secara keseluruhan, hampir 150 ribu ton air telah dialirkan ke Samudra Pasifik.

Kontroversi mengenai pembuangan air Fukushima terus menjadi sorotan internasional karena menyangkut isu keselamatan lingkungan, keamanan pangan laut, dan kepercayaan publik terhadap pengelolaan dampak bencana nuklir terbesar Jepang sejak Perang Dunia II.

sumber : Xinhua

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |