UNICEF: Israel Bunuh 70 Anak di Tepi Barat sejak 2025

3 hours ago 2

BADAN Dunia untuk Anak-anak (UNICEF) pada Selasa, 12 Mei 2026, mengutuk operasi militer Israel di Tepi Barat, wilayah otoritas Palestina. Rezim Zionis terus menyerang Tepi Barat wilayah yang diklaim Israel. Serangan itu terus “meningkat” setiap tahun dan mengakibatkan 70 anak Palestina tewas sejak awal 2025.

“Anak-anak membayar harga yang tak setimpal akibat meningkatnya operasi militer dan serangan pemukiman di seluruh Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur,” kata juru bicara badan anak anak PBB atau UNICEF, James Elder, mengutip laporan dari kantor berita Al Arabiya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Elder menyebutkan sejak awal 2025, ketika Israel melancarkan operasi militer dalam skala besar di Tepi Barat, setidaknya satu anak Palestina tewas dalam serangan itu. “Rata-rata satu anak Palestina tewas setiap minggunya dan menyebabkan 850 anak lainnya terluka selama periode tersebut,” kata Elder.

Menurut juru bicara UNICEF pasukan Israel bertanggung jawab atas 93 persen kematian anak-anak Palestina di Tepi Barat. Dia menambahkan, sebagian korban tewas akibat atau luka-luka disebabkan oleh peluru tajam.

“Peningkatan operasi militer seperti ini belum pernah terjadi, di tengah intensitas serangan ke wilayah pemukiman,” kata dia. 

PBB menyebut sepanjang tahun ini jumlah warga Palestina yang terluka akibat arogansi pemukim Israel adalah yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Elder menambahkan sikap otoriter Zionis terjadi di tengah demolisi pemukiman di Tepi Barat, padahal anak-anak membutuhkan ruang aman bagi tumbuh kembangnya. 

Kekerasan yang dialami warga Palestina oleh militer dan penduduk Israel di antaranya, pemukulan, penusukan, penembakan, dan menyemprotkan cairan merica.

“Insiden-insiden itu terdokumentasi meliputi anak-anak yang ditembak, ditusuk, dipukuli, dan disemprot merica,” ujar Elder.

Menurut laporan Pakistan Today, tindakan represif Tel Aviv telah menyebabkan pengungsian massal dengan kisaran 2.500 warga sipil dan 1.100 dalam caturwulan tahun ini di Tepi Barat. “Jumlah ini melampaui total pengungsi yang tercatat pada 2025."

Kekhawatiran Terkait Pengungsian, Pendidikan, dan Penahanan

Badan PBB tersebut juga melaporkan peningkatan insiden yang memengaruhi sektor pendidikan. Kata UNICEF, melalui Elder, 99 insiden terkait pendidikan, sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman malah sebaliknya menjadi tempat yang menakutkan.

Sepanjang 2026, ia melaporkan berbagai pelanggaran kerap menimpa anak-anak Palestina di Tepi Barat. Ini mencakup kekerasan fisik, penahanan, dan pembongkaran sekolah hingga penutupan akses ruang kelas.

Insiden itu turut berkontribusi pada iklim ketakutan bagi anak-anak Palestina. Selain itu, Elder juga menyoroti, memburuknya kondisi kemanusian di Tepi Barat akibat  kerusakan infrastruktur air oleh tentara Zionis.

Angka-angka yang dibeberkan UNICEF mengaitkan korban jiwa dan cedera anak-anak dengan gangguan yang lebih luas di seluruh Tepi Barat.

Data badan tersebut menunjukan peningkatan jumlah anak-anak Palestina yang ditahan oleh Israel sebanyak 347 orang. Angka itu merupakan yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir dan setengahnya ditahan tanpa dakwaan resmi berdasarkan prosedur penahanan administratif.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |