REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Universitas Mercu Buana (UMB) mengembangkan Smart Rain Garden sebagai sistem pemanenan air hujan untuk mendukung konservasi air di kawasan perkotaan. Teknologi tersebut dibuat untuk mengurangi limpasan air hujan sekaligus menyediakan sumber irigasi bagi pertanian perkotaan.
Inovasi tersebut diterapkan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Tahun 2026 di Kelurahan Pinang, Kota Tangerang. Program ini melibatkan kolaborasi antara UMB, Kelompok Program Kampung Iklim (ProKlim), Kelompok Wanita Tani (KWT), serta Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang.
Ketua tim pengabdian UMB Uly Amrina mengatakan, pengelolaan air hujan di kawasan perkotaan selama ini masih berorientasi pada pembuangan air melalui sistem drainase. Padahal, menurut dia, air hujan dapat dimanfaatkan sebagai sumber daya yang mendukung konservasi air dan ketahanan pangan.
“Melalui Smart Rain Garden, kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap air hujan. Air hujan bukan lagi dipandang sebagai penyebab banjir yang harus segera dibuang, tetapi sebagai sumber daya yang dapat disimpan, dipantau, dan dimanfaatkan kembali untuk mendukung konservasi air serta pertanian perkotaan,” ujar Uly dalam siaran pers, Kamis (30/7/2026).
Dalam implementasinya, Smart Rain Garden mengintegrasikan Ground Water Tank (GWT) sebagai sistem penyimpanan air hujan di bawah permukaan tanah dengan jaringan pemipaan, pompa, toren, sensor kelembapan tanah, sensor ketinggian air, serta sistem pemantauan digital. Teknologi tersebut memungkinkan air hujan yang sebelumnya menjadi limpasan dimanfaatkan kembali sebagai sumber irigasi bagi lahan pertanian yang dikelola Kelompok Wanita Tani.
Selain membangun infrastruktur, program ini juga menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui sosialisasi, pelatihan, dan pendampingan mengenai pengoperasian sistem, pemeliharaan fasilitas, hingga praktik budidaya hemat air. Tim pemeliharaan juga dibentuk untuk menjaga keberlanjutan operasional Smart Rain Garden.
Uly mengatakan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari terbangunnya teknologi, tetapi juga dari kemampuan masyarakat mengelola dan merawat sistem secara mandiri.
“Kami berharap model Smart Rain Garden ini dapat menjadi contoh praktik baik yang dapat direplikasi di berbagai kawasan permukiman perkotaan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat merupakan kunci untuk membangun kota yang lebih tangguh menghadapi perubahan iklim,” katanya.
Tim pelaksana program dipimpin Uly Amrina dengan anggota Winda Widyanty, Sylvia Indriany, dan Fajar Rahayu Ikhwannul Mariati. Keempat dosen dari Fakultas Teknik serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mercu Buana tersebut mengintegrasikan pendekatan teknik, lingkungan, manajemen, dan pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan sistem Smart Rain Garden.
Pelaksanaan program mendapat dukungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang mulai dari tahap perencanaan, identifikasi lokasi, pendampingan teknis, hingga monitoring di lapangan. Program ini juga memperoleh pendanaan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Wilayah Tahun 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
UMB berharap Smart Rain Garden dapat menjadi model konservasi air berbasis masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai kawasan perkotaan untuk memperkuat ketahanan lingkungan sekaligus mendukung pengembangan pertanian perkotaan berkelanjutan.

2 hours ago
2













































